Planet Geo Indonesia

Indonesian GIS & Geo-related blogs aggregator
Agregator blog GIS & Geo Indonesia

Iwan Setiawan

Syndicate content
Updated: 3 weeks 2 days ago

Salah Pesan dan Salah Baca

22 July, 2009 - 15:10

Mencari makanan yang halal di daerah yang bukan mayoritas muslim merupakan suatu perjuangan. Hal ini terjadi pada saat saya dan teman-teman dari Indonesia mengikuti workshop di Bangkok, Thailand.

Setelah check-in di hotel dan istrahat sebentar, hal pertama yang dilakukan adalah makan malam. Kebetulan waktu makan malam sudah tiba. Untungnya hotel yang dipilihkan oleh panitia adalah di daerah yang dikenal dengan nama ‘Nana’, berada di jalan Sukhumvit. Nana merupakan lokasi yang mayoritasnya dikunjungi oleh negara timur tengah dan india. Sehingga banyak restoran India dan Arab, dan yang paling penting, berlabel halal. Setidaknya ada jaminan bahwa makanan tersebut layak dikonsumsi oleh umat muslim.

Akhirnya, pilihan jatuh ke salah satu restoran India. Karena saya dan teman-teman tidak terlalu familiar dengan masakan India, maka saling menebaklah makanan yang akan dipilih. Kami sepakat untuk memilih makanan yang berbeda, sehingga akan bisa saling mencicipi satu sama lain. Saya memilih chicken tandori dengan roti. Rekan yang lain ada yang memilih fish tika, nasih goreng ayam, mashala dan lain-lain (lupa dengan nama masakan yang tidak familiar).

Kami ngobrol menceritakan organisasi masing-masing sambil menunggu masakan disajikan. Saat masakan disajikan di meja, kamipun terheran-heran sambil cekikikan dengan porsi yang disajikan. Cukup banyak untuk ukuran perut Indonesia. Tapi apa mau dikata, sudah dipesan dan tidak mungkin untuk membatalkan pesanan. Kamipun menikmati hidangan yang cukup banyak itu. Bayangkan, nasi goreng yang disajikan cukup untuk 3 orang. Dan di meja ada 4 porsi nasi goreng untuk kami yang hanya ber-lima. Chicken tandori yang saya pesanpun sepertinya ayam kalkun dan bukan ayam broiler.

Kami beruntung, sarapan yang disajikan dihotel juga ada menu makanan halal. Hanya sayang, selama 5 hari kami di hotel, menu untuk makanan halal selalu sama setiap hari yaitu: hush brownomeletepancake, telur rebus dan telur ceplok.

Hari berikutnya juga sama dan dilalui dengan makanan India. Makanan termahal yang pernah kami santap adalah pada hari ke-3. Setelah workshop selesai, kami berencana ke Suan Lum, night bazar atau pasar malam. Setelah menikmati fish spa, sambil geli-geli karena kakinya dikerumuni oleh ikan, kami menuju pasar malam dan mencari food court sambil berharap ada makanan halal. Kami beruntung (lagi-lagi) karena pada saat menanyakan ke satpam, kami diantar ke restoran sea food yang juga ada label halal-nya. Kami memesan ikan kakap, ikan kerapu, udang, dan cumi-cumi. Saat tagihan diberikan, kami sempat kaget karena ditagih 4500 Baht. Kira-kira sekitar 1.4 juta rupiah untuk pesanan tersebut.

Hal yang cukup menggelikan adalah pada makan malam terakhir. Kami ke MBK, salah satu pusat perbelanjaan cukup besar di Bangkok. Dari informasi kami peroleh bahwa di food court-nya terdapat masakan halal. Kami mencari-cari informasi dan diperoleh bahwa food hall terdapat di lantai 5. Pada saat menuju food hall kami melihat tulisan ‘International Food Hall’. Saat membaca tulisan tersebut, entah karena lapar atau terlalu yakin, kami membacanya HALAL. Langsung menuju food hall, baru sadar kok international food semua dan tidak ada pesan atau kata-kata hall-nya. Baru dech kegelian sendiri akibat salah baca. Akan tetapi kami tidak salah, ternyata memang ada masakan halal yaitu restoran arab. Santapan malam terakhirpun dinikmati di restoran Arab.


Thinking out of the box

21 July, 2009 - 23:15

Ini merupakan kisah teman saya yang mengisahkan bahwa berpikir diluar kotak (thinking out of the box) itu kadang perlu dan menguntungkan. Cerita ini mengenai seorang bapak yang baru membeli rumah di daerah Pamulang. Pada saat itu, sekitar awal 90-an, daerah tersebut masih sepi. Istri bapak ini adalah seorang dokter gigi. Sang istri kemudian membuka praktek sebagai dokter gigi.

Sehari, seminggu, praktek sang istri masih sepi. Belum banyak pasien yang datang. Akhirnya sang istri curhat ke suaminya dan meminta saran bagaimana agar prakteknya ramai didatangi pasien. Sang istri merasa bahwa mungkin kurang informasi dari penduduk sekitar mengenai prakter dokter gigi tersebut.

Keesokan harinya, bapak tersebut berangkat ke kantor. Dan sepulangnya pada sore hari, sang bapak ini menaiki bis untuk menuju rumahnya sambil membisiki kondekturnya bahwa kalo nanti dia turun, untuk meneriakan ‘dokter gigi… dokter gigi’.

Begitu seterusnya dilakukan oleh bapak ini setiap dia pulang kantor. Tentunya dengan menambahkan ongkos bis tersebut kepada sang kondektur agar pesanannya dilakukan.

Akhirnya daerah tempat bapak itu turun, yang merupakan juga gang menuju rumahnya dan tempat praktek dokter gigi sang istri, menjadi terkenal dengan nama ‘dokter gigi’. Dalam waktu tidak berapa lama, sang istripun kebanjiran pasien akibat pemasaran yang cukup baik dari sang suami.

Ternyata pemasaran atau marketing bukan merupakan suatu hal yang rumit. Cukup berpikir diluar konteks dan hasilnya akan dapat dirasakan.


Body Langue?

8 July, 2009 - 21:52

langue


Merah Yang diabaikan

7 July, 2009 - 12:31

Kedisiplinan pengguna jalan raya di Indonesia memang dirasakan masih cukup rendah. Tidak seperti halnya masyarakat di negara maju seperti Eropa. Di Belanda misalnya, pengguna jalan raya sangat disiplin dalam mengendarai kendaraan mereka. Lampu lalulintas atau yang dikenal dengan lampu merah diatati dan saling menghormati sesama pengguna jalan. Terutama pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Bulan Maret 2009, Pemerintah Kota Bogor memasang lampu lalulintas di sepanjang jalan raya pajajaran hingga tajur yang dikhususkan untuk penyeberang jalan dan pejalan kaki. Apa yang terjadi? Lampu lalulintas tersebut tidak efektif karena kesadaran dan disiplin pengguna jalan raya. Pejalan kaki yang menyeberang tidak menggunakan fasilitas tersebut dan bahkan pengemudi yang tidak mengindahkan lampu lalulintas tersebut. Kita yang berhenti pada saat lampu merah dan ada penyeberang jalan yang menggunakan fasilitas tersebut dianggap aneh oleh pengendara yang lain dengan membunyikan klakson dan berjalan terus sehingga membahayakan orang lain.

Mungkin perlu dilakukan sosialisasi yang efektif dan intensif baik kepada pengguna jalan raya maupun pejalan kaki dan penyeberang jalan mengenai fasilitas ini. Sehingga kita yang berhenti tidak akan dianggap aneh apabila lampu merah menyala dan penyeberang jalan akan aman hingga ke seberang jalan.



All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.