La An
Peta RBI Kota Padang Skala 1:10.000 Dari BAKOSURTANAL (format file: png)
Sebagai salah satu instutusi yang bergerak pada bidang pemetaan, BAKOSURTANAL telah mengupluad peta-peta rupabumi skala 1:10.000 untuk kepentingan penanganan gempa yang terjadi di Sumatera Barat… salut untuk bakosurtanal atas partisipasinya tersebut. peta-pata ini sangat bermanfaat sekali bagi para sukarelawan pasca gempa maupun keluarga korban gempa yang ingin tau peta Kota Padang dan sekitarnya. apalagi peta ini cukup detail dengan skala 1:10.000.
File2 tersebut bisa didownload di www.bakosurtanal.go.id yang tautannya juga saya simpan di sini. klik gambar untuk mendapatkan file pngnya. semoga bermanfaat untuk semua…
0714-6247 (1,52 MB)
0714-6248 (2,42 MB)
0714-6249 (4,06 MB)
0714-6413 (0,8 MB)
0714-6415 (0,98 MB)
0714-6416 (1,21 MB)
0714-6418 (0,93 MB)
0714-6419 (2,28 MB)
0714-6421 (2,53 MB)
0714-6422 (4,39 MB)
0714-6423 (4,37 MB)
0714-6424 (4,15 MB)
0714-6425 (5,62 MB)
0714-6427 (5,42 MB)
0714-6433 (1,34 MB)
0714-6436 (0,99 MB)
0714-6439 (0,88 MB)
0714-6441 (5,48 MB)
0714-6442 (5,68 MB)
0714-6444 (3,23)
0714-6445 (5,41 MB)
0714-6447 (4,34 MB)
0714-6448 (5,48 MB)
0715-3213 (3,15 MB)
0715-3216 (2,67 MB)
0715-3219 (3,52 MB)
0715-3221 (5,25 MB)
0715-3224 (4,52 MB)
0715-3227 (4,28 MB)
0715-3232 (1,73 MB)
0715-3233 (4,27 MB)
0715-3234 (1,04 MB)
0715-3235 (3,4 MB)
0715-3236 (4,8 MB)
0715-3237 (2,3 MB)
0715-3238 (3,4 MB)
0814-4137 (4,26 MB)
0814-4138 (4,94 MB)
Selain itu ada juga peta RBI Skala 250.000 untuk daerah Padang, Jambi, Bengkulu dan sekitarnya ( format file: jpeg)
0614 (53,1 MB)
0712 (23,6 MB)
0713 (54,8 MB)
0714 (25 MB)
0715 (26,7 MB)
0716 (27,2 MB)
0812 (25,4 MB)
0813 (58,1 MB)
0814 (29,9 MB)
0815 (25 MB)
0816 (31,2 MB)
0913 (58,3 MB)
0914 (62,3 MB)
0915 (29,1 MB)
1013 (26,7 MB)
1014 (9,06 MB)
1015 (26,2 MB)
dan tambahannya adalah Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLN 03) dan Peta Antisipasi Penanggulangan Tsunami Kota Padang
Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLN 03) Peta Antisipasi Penanggulangan Tsunami
Kenapa banyak Indeks Vegetasi menggunakan panjang gelombang merah dan infra merah dekat? (1)
Yang paling penting dari data penginderaan jauh (PJ) adalah adanya resolusi atau tingkat kepekaan sensor (alat perekam objek) terhadap tingkat pemisahan objek dipermukaan bumi. Ada 4 jenis resolusi yaitu resolusi spasial yang berhubungan dengan besar pixel/pemisahan objek terkecil, resolusi spektral berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan panjang gelombang, resolusi temporal berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan waktu dan resolusi radiometrik yang berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan kekuatan sinyal. Karena kita berbicara tentang indeks vegetasi, maka yang difokuskan adalah tentang resolusi spektralnya.
Indeks vegetasi merupakan suatu persamaan matematik sederhana (sebagian besar
) yang menggabungkan beberapa band atau saluran panjang gelombang yang menghasikan satu data baru yang diasumsikan sebagai suatu nilai indeks yaitu indeks vegetasi. Kenapa dibilang “asumsi”? karena nilai indeks ini akan berbeda2 bila mengunakan persamaan indeks vegetasi yang berbeda2 pula.
Indeks vegetasi yang paling tua adalah Ratio Vegetation Index (RVI) yang dipublikasikan oleh Jordan (1969) dan yang paling terkenal adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang dipublikasikan oleh Deering (1978). Kedua indeks ini menggunakan band/saluran pada panjang gelombang infra merah dekat (NIR) dan merah (red). Kenapa musti NIR dan merah?
Tiga proses penting dalam PJ yaitu pemantulan cahaya oleh objek (reflectance), penyerapan cahaya oleh objek (Absorptance) dan pelolosan cahaya oleh objek (Transmittance). Tanaman, lebih spesifiknya daun juga mengalami tiga proses ini terhadap cahaya matahari yang diterimanya. Kita melihat daun bisanya berwrna hijau, kenapa? Karena dari seluruh cahaya matahari yang diterima, daun hanya memantulkan cahaya spesifik yang berwarna hijau yaitu pada panjang gelombang sekitar 0.55 µm, tapi ini yang terlihat. Sebenarnya yang terjadi, pemantulan maksimum pada daun terjadi pada panjang gelombang inframerah dekat (NIR), karena mata manusia hanya menangkap cahaya pada panjang gelombang mejikuhibiu, masih ingatkan apa itu menjikuhibiu…? atau pada panjang gelombang 0.4-0.7 µm atau juga panjang gelombang visible maka yang terlihat adalah pantulan yang berwarna hijau, sedangkan infra merah dekat, karena dah kluar dari mejikuhibiu… ga terlihat karena panjang gelombang inframerah dekat itu berada pada sekitar panjang gelombang 0.75-1.35 µm. Seandainya mata manusia bisa menangkap panjang gelombang ini, maka daun akan terlihat sangat merah karena daun memantulkan gelombang ini sekitar 60%, coba bandingkan dengan gelombang hijau yang hanya sekitar 20% (Jensen, 2000). Ga bisa dibayangkan dah bagaimana silaunya tuh daun. Contohnya pada gambar dibawah. Gambar atas adalah pengambilan gambar mengunkan panjang gelombang mejikuhibiu, gambar yang dibawah menggunakan NIR. Kelihatan merah semuakan vegetasi yang masih bagus waktu pake NIR (memantulkan cahaya NIR), sedangkan vegetasi yang dah kering kelihatan putih (menyerap cahaya NIR).
Inilah dasar kenapa band/saluran NIR lebih dipilih untuk dijadikan salah satu band dalam mencari indeks vegetasi selain juga alasan2 lain seperti tingkat penyerapan cahaya oleh vegeteasi yang rendah, tingkat pelolosan cahaya oleh vegetasi yang cukup tinggi, dan pemantulan cahayanya tidak dipengaruhi oleh kloroplas didalam daun. Tingkat pemantulan cahaya yang tinggi oleh daun ini dikontrol oleh struktur daun, khususnya oleh jaringan mesofil gabus karena adanya ruang antar sel dimana ketebalan daun, adanya epiticular lilin dan umur daun juga mempengaruhi tingkat penyerapan cahaya ini (Slaton et al., 2001). Epiticular lilin dapat meningkatkan pemantulan gelombang NIR oleh daun sekitar 5-20% (Mulroy, 1979). Pada gambar dibawah terlihat dengan jelas bagaimana pengaruh ketebalan daun terhadap pemantulan gelombang NIR
Secara umum, daun tanaman memantulkan 2 jenis cahaya yaitu hijau dan NIR dan menyerap 2 jenis cahaya juga yaitu biru dan merah, seperti yang terlihat pada gambar dibawah.
Akan tetapi banyak persamaan indeks2 vegetasi yang menggunakan panjang gelombang merah dibandingkan panjang gelombang biru yang dikarenakan oleh sensitivitas panjang gelombang merah terhadap perubahan klorofil. Gelombang biru terserap oleh tanaman karena adanya pigmen klorofil-a, klorofil-b dan karotin, sedangkan gelombang merah terserap oleh tanaman karena adanya klorofil-a dan klorofil-b. Seperti terlihat pada gambar di bawah.
Ceritanya akan dilanjutkan nanti setelah dapat data2 yang bagus untuk di tampilkan…
Studi Tentang Proses pertukaran CO2 dan Interaksinya antara Atmosfer dan Lautan Menggunakan Citra ALOS/PALSAR
STUDY OF AIR-SEA INTERACTION AND CO2 EXCHANGE PROCESS BETWEEN THE ATMOSPHERE AND OCEAN USING ALOS/PALSAR
(Study Cases of Wind Wave Bubbling Process in Badung and Lombok Straits)
Ni Wayan Ekayanti, Takahiro Osawa, I Wayan Kasa, and A. Rahman As-syakur
ABSTRAK
Peningkatan CO2 di atmosfer yang berpotensi menghasilkan pemanasan global telah menjadi perhatian bagi kehidupan manusia. Lautan mengandung lima puluh kali lebih besar CO2 daripada atmosfer dan menjadi penyangga yang membatasi konsentrasi CO2 dalam atmosfer. CO2 mengalami perubahan secara terus menerus antara udara-lautan dan konsentrasi CO2 di dalam laut dikendalikan oleh parameter fisika, kimia, dan biologi. Perubahan konsentrasi CO2 antara udara-lautan dapat ditentukan dari interaksi gas dan perbedaan konsentrasi CO2 antara udara-lautan. Perubahan CO2 antara udara-lautan dapat dikaji dari studi kecepatan angin, koefisien gesekan kecepatan angin yang diperoleh dari satelit ALOS/PALSAR di daerah Selat Badung dan Selat Lombok, salinitas, dan juga dengan SST yang diperoleh dari satelit MODIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien perubahan CO2, perbedaan tekanan CO2 antara udara-lautan, dan CO2 flux antara udara-lautan secara berturut-turut adalah 0.303±0.006 (rata-rata ± standar deviasi) (mol m-2 month-1µatm-1), 17.94±10.79 μatm, and 5.35±3.26 (mol m-2 month-1), dengan nilai maksimum dan minimum dari koefisien perubahan CO2 secara berturut-turut terjadi pada bulan Agustus dan Februari.
Kata kunci: CO2 flux, koefisien pertukaran CO2, perbedaan tekanan CO2, suhu permukaan laut (SST).
ABSTRACT
The increase of atmospheric CO2 and the potentially resulting global warming has been a great concern for human society. Ocean contains more than fifty times carbon in the atmosphere and can be taken as a buffer limiting the concentration of CO2 in atmosphere. CO2 flux between atmosphere and ocean or CO2 concentration in ocean is controlled by physical, chemical, and biological process. It can be determined from air-sea CO2 concentration differences and CO2 exchange process between the atmosphere and ocean. To obtain air-sea interaction and CO2 exchange process between the atmosphere and ocean using ALOS/PALSAR of Badung and Lombok Straits, monthly sea surface temperature (SST), wind friction velocity (u*) data, and the local oceanography data of the ocean were collected and analyzed. CO2 exchange coefficient, different partial pressures CO2 (∆pCO2), and Carbon dioxide (CO2) flux at air-water interface in the strait were calculated using alkalinity, active coefficient, and sea surface temperature (SST). The CO2 exchange coefficient, CO2 fluxes, and ∆pCO2 at different month and areas were estimated by concentration gradient between water and air in consideration of Schmidt numbers and wind friction velocity (u*). The results indicated that the mean values of CO2 exchange coefficient, ∆pCO2, and CO2 fluxes in Badung and Lombok straits areas, were 0.303±0.006 (mean ± standard deviation) (mol m-2 month-1µatm-1), 17.94±10.79 μatm, and 5.35±3.26 (mol m-2 month-1), respectively. Maximum and minimum CO2 exchange coefficient distributions were found in August and February, respectively. Maximum and minimum ∆pCO2 and CO2 fluxes values were found on February and August, respectively, during the higher and lower SST.
Keywords: CO2 flux, CO2 exchange coefficient, ∆pCO2, SST.
Selengkapnya bisa di baca pada:
Ekayanti, N.W., T. Osawa, I W. Kasa, and A.R. As-syakur. 2009. Study of Air-Sea Interaction and CO2 Exchange Process Between The Atmosphere and Ocean Using ALOS/Palsar (Study Cases of Wind Wave Bubbling Process in Badung and Lombok Straits). Jurnal Bumi Lestari, Vol 9, No 2. p 151-158

KONTRIBUSI MANUSIA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN LINGKUNGAN
Berdasarkan laporan IPCC tahun 2007 kemungkinan manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim adalah sebesar 90%, keadaan ini lebih tinggi dari laporan terakhir dari IPCC pada tahun 2001 dimana kemungkinan manusia sebagai penyebab perubahan iklim adalah sebesar 60%. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa penyebab utama terjadinya peningkatan Gas Rumah Kaca (GRK) seperti peningkatan gas Carbon Dioksida yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan dari lahan hutan menjadi lahan yang bernilai ekonomi seperti pemukiman dan perkebunan, sedangkan peningkatan gas metan dan gas dinitrogen oksida disebabkan oleh aktivitas pertanian.
Akan tetapi selain merupakan penyebab perubahan iklim, manusia juga merupakan mahluk yang berusaha menghambat perubahan iklim tersebut.
Skema pengaruh, dampak dan tanggapan manusia terhadap perubahan iklim
Meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer disebabkan oleh kegiatan manusia di berbagai sektor, antara lain:
1. Energi
Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas alam dalam berbagai kegiatan, misalnya pada pembangkitan listrik, transportasi dan industri, akan memicu bertambahnya jumlah emisi GRK di atmosfer. Walaupun sama-sama menghasilkan emisi GRK, namun emisi yang dihasilkan dari penggunaan ketiga jenis bahan bakar fosil tersebut berbeda-beda. Untuk menghasilkan energi sebesar 1 kWh, pembangkit listrik yang menggunakan batubara mengemisikan sekitar 940 gram CO2. Sementara pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi dan gas alam, menghasilkan emisi sekitar 798 dan 581 gram CO2 (Meiviana, dkk., 2004).
Tahun 2009 pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan kebutuhan batubara dalam negeri sebanyak 68,3 juta ton, dimana sekitar 41,4 juta ton untuk pembangkit listrik. coba dihitung berapa banyak CO2 yg diemisikan…
Di Indonesia, di antara sektor lainnya, sektor energi menempati urutan kedua sebagai sumber GRK yaitu sekitar 25% dari total emisi. Sementara dari sisi pemanfaatan energi di Indonesia, sektor industri merupakan sektor pengemisi GRK terbesar, diikuti oleh sektor transportasi.

Emisi GRK Indonesia Tahun 1994
2. Kehutanan
Salah satu fungsi hutan adalah sebagai penyerap emisi GRK, biasa disebut carbon sink. Hutan bekerja untuk menyerap dan mengubah karbondioksida (CO2), salah satu jenis GRK, menjadi oksigen (O2) untuk kebutuhan mahluk hidup. Oleh karena itu kegiatan pengrusakan hutan, penebangan hutan, perubahan kawasan hutan menjadi bukan hutan, menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya disimpan di dalam pohon.
Seharusnya dengan luasnya kawasan hutan di Indonesia, sekitar 120 juta ha (Tahun 2008), maka emisi GRK yang dapat diserap jumlahnya cukup banyak. Namun dengan laju kerusakan hutan sekitar 1.09 juta hektar per tahun untuk kurun waktu tahun 2000-2006 (SLHI, 2008), tak heran jika sektor kehutanan merupakan penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia. Menurut The First National Communication yang berisi inventarisasi GRK di berbagai Negara, sekitar 64% dari total emisi GRK di Indonesia dihasilkan dari sektor kehutanan (Meiviana, dkk., 2004).
3. Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian dan peternakan juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi GRK di atmosfer. Dari sektor pertanian, emisi GRK dihasilkan dari sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk, pembakaran padang savana, dan pembusukan sisa-sia pertanian. Sektor pertanian menurut The First National Communication secara umum menghasilkan emisi GRK hanya sekitar 8%. Namun sektor ini menghasilkan emisi gas metana tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
Sementara dari sektor peternakan, emisi GRK berupa gas metana (CH4) dilepaskan dari kotoran ternak yang membusuk. Sesungguhnya untuk mengurangi emisi GRK dari sector ini, kotoran ternak dapat diolah untuk menjadi biogas, bahan bakar yg ramah lingkungan.
4. Sampah
Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah sendiri turut menghasilkan emisi GRK berupa gas metana (CH4), walaupun dalam jumlah yang cukup kecil jika dibandingkan dengan emisi GRK yang dihasilkan dari sektor kehutanan dan energi.
Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Ini berarti pada tahun tersebut Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton. Sampah kota perlu dikelola secara benar, agar laju perubahan iklim bisa diperlambat.

Emisi Karbon per orang di beberapa negara

Trend emisi GRK yang disebabkan oleh manusia dari tahun 1970 sampai 2004

Laporan dan Kumpulan Data SLHD Kota Denpasar 2008
Status Lingkungan Hidup merupakan suatu gambaran umum mengenai kondisi lingkungan yang menjabarkan segala aktifitas manusia/masyarakat dalam mengelola lingkungan yang akan berpengaruh terhadap lingkungan sosial, ekonomi, dan kesehatan. Status Lingkungan Hidup juga bermanfaat dalam meminimalkan dampak yang terjadi akibat bencana lingkungan karena Status Lingkungan Hidup memberikan informasi tentang trend-trend kondisi lingkungan daerah yang bersangkutan. secara umum tujuan penyusunan Laporan dan Basis Data status lingkungan hidup adalah : tersusunnya sebuah dokumen tentang status kondisi lingkungan hidup sebagai pedoman dan acuan bagi pemerintah daerah dan semua pihak yang berkepentingan dalam rangka merumuskan kebijakan dan program pengelolaan dan pengendalian lingkungan; tercapainya kondisi lingkungan yang baik di setiap wilayah di Kabupaten/kota dan dapat tetap terpelihara dan terjaga dengan baik, sehingga timbulnya bahaya pencemaran lingkungan baik di dalam maupun luar negeri dapat diminimalisasi sekecil mungkin; teridentifikasi dan terinventarisasinya karakteristik komponen lingkungan hidup, sebagai bahan monitoring; dan untuk menciptakan sistem pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Laporan dan Kumpulan Data Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar Tahun 2008 Bisa di Download pada Link di berikut
- Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar 2008
- Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar 2008 per Bab
Cover
Bab I Pendahuluan
Bab II Gambaran Umum
Bab III Media Air
Bab IV Udara
Bab V Lahan dan Hutan
Bab VI Keanekaragaman Hayati
Bab VII Pesisir dan Laut
Bab VIII Lingkungan Pemukiman
Bab IX Agenda Pengelolaan Lingkungan Hidup
Daftar Pustaka
- Kumpulan Data Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar 2008

Hati-hati kemungkinan adanya El Nino dan kemarau panjang tahun ini
Berdasarkan prediksi pada anomaly iklim El Nino dan La Nina bulan Februari 2009 oleh The International Research Institute for Climate and Society pada bulan juni ini diperkirakan anomali suhu permukaan laut samudera pasifik (Nino 3.4) akan berada di atas 0 (nol) derajat, dan keadaan itu benar2 terjadi pada bulan juni ini. Dan diperkirakan akan terus meningkat sampai pada bulan Oktober 2009. meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 menggambarkan terjadinya kondisi El Nino untuk daerah sekitarnya. Dan untuk Indonesia, kejadian El Nino akan mengakibatkan kemarau yang berkepanjangan, kegagalan panen, hutan yang terbakar dan juga kekurangan pangan.
Hasil-hasil model prediksi tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah. Dan semoga kita bisa merencanakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut sehingga kerugiannya tidak terlalu besar. Misalnya dengan menyetok kebutuhan pokok seperti beras, merencanakan penanaman tanaman yg tahan kekeringan seperti jagung dan kedelai, serta berusaha menghemat air
Kompas hari Rabu 01 Juli 2009 memuat suatu berita yang berjudul ”Pertumbuhan El Nino Diselingi Hujan” adapun beritanya dapat di baca pada tulisan dibawah.
Jakarta, Kompas – Kondisi cuaca masih sulit diprediksikan. Tahap pertumbuhan El Nino saat ini yang diperkirakan membawa dampak kemarau panjang tahun 2009-2010 masih diselingi hujan deras di selatan dan barat Jakarta pada Senin malam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan ada gangguan sirkulasi harian di perairan barat Sumatera akibat anomali suhu permukaan laut mencapai 0,8 derajat celsius di atas normal. Gangguan itu menimbulkan perubahan pola angin yang mendatangkan hujan deras. Seperti di stasiun pemantauan BMKG di Dermaga, Bogor, intensitas curah hujan tercatat 94 milimeter.
”Gangguan sirkulasi tidak akan mengubah pola besar menuju fase El Nino di wilayah Indonesia,” kata Kepala Bidang Analisis Iklim dan Kualitas Udara BMKG Soetamto, Selasa (30/6) di Jakarta.
Menurut dia, fenomena El Nino akan ditunjukkan dengan suhu muka laut yang dingin sehingga tidak menyuplai uap air yang membentuk awan hujan. Namun, saat ini masih berlangsung anomali suhu muka laut mencapai 0,8 derajat celsius di atas normal yang menunjukkan pendinginan suhu muka laut itu berjalan lamban.
Dampak yang ditimbulkan, menurut Soetamto, tahun ini musim hujan berpotensi mundur hingga beberapa bulan ke depan, sedangkan musim kemarau akan berlangsung lebih panjang daripada tahun sebelumnya.
Pembelokan arah angin
Kepala Subbidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Hary Tirto Jatmiko mengatakan, hujan secara sporadis yang masih berlangsung di sebelah barat dan selatan Jakarta akibat terjadi pembelokan arah angin dari tenggara ke barat laut. Pembelokan yang memperbesar suplai uap air ini dipengaruhi pusaran angin yang terjadi di perairan sebelah barat Sumatera. ”Hujan di Jawa seperti terjadi di barat dan selatan Jakarta bersifat sporadis dan tidak merata,” katanya.
Menurut Hary, konsentrasi hujan di Indonesia saat ini terpusat di Sumatera bagian utara dan tengah, pesisir barat Sumatera, dan Sumatera bagian selatan. Di Kalimantan, hujan terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian utara, serta Kalimantan Timur bagian utara dan timur.
Di Maluku Utara peluang hujan terkonsentrasi di bagian utara dan tengah, sedangkan di Papua di bagian barat, utara, dan tengah. (NAW)

About
Planet Geo Indonesia is a GIS/geo- related blog aggregator, written by Indonesian bloggers and mostly in Indonesian Language... read on »
Contributors
Except otherwise noted BK and Geografiana.com has no affiliation whatsoever with the authors. All materials, links, copyrights, opinions expressed in each blog solely belongs to the original authors.
Link to this site
Feel free to use this image to promote this planet on your website/weblog, you can simply copy-and-paste the code below:

All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.












