Planet Geo Indonesia

Indonesian GIS & Geo-related blogs aggregator
Agregator blog GIS & Geo Indonesia

La An

Syndicate content A.R. As-syakur
Untukku dan Untukmu
Updated: 7 weeks 3 hours ago

The International Geosphere-Biosphere Programme Science Series

4 January, 2010 - 15:01

 Implications for Natural and Managed Ecosystems.No. 5. Marine Ecosystems and Global Change A planet under pressure.No. 3. Environmental Variability and Climate Change. PAGES.No. 2. Ocean Biogeochemistry and Global Change. JGOFS.

The International Geosphere-Biosphere Programme (IGBP) merupakan program penelitian yang melakukan studi tentang perubahan global yang berhubungan dengan pemanasan global dan perubahan iklim.
IGBP bertujuan untuk memberikan pengetahuan ilmiah kepada masyarakat agar kehidupan di bumi berlangsung secara berkelanjutan. IGBP melakukan penelitian-penelitian tentang Biologi, Kimia, dan proses fisiknya yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
agar hasil penelitian-penelitian tersebut berguna bagi masyarakat luas, telah banyak buku-buku dan laporan-laporan yang dibuat seperti laporan “Science series” yang bisa di download di bawah. kumpulan dari “science series” ini merupakan suatu tulisan ilmiah yang mudah dipahami dan sangat berguna bagi kepentingan pengambil kebijakan dan memanajemen sumberdaya masyarakat tentang pemahaman ilmiah dari bidang pengetahuan sistem bumi.

silahkan mendownloadnya pada link-link di bawah.

No. 5. Marine Ecosystems and Global Change Download (1.12 MB) No. 5. Marine Ecosystems and Global Change

Edited by Manuel Barange and Roger Harris. Stockholm: IGBP, 32pp. (2003)

 A planet under pressure. Download (1.32 MB) No. 4. Global Change and the Earth System: A planet under pressure.

The Global Environmental Programmes. Edited by Will Steffen and Peter Tyson. Stockholm: IGBP, 32pp. (2001) (1.3 MB)

No. 3. Environmental Variability and Climate Change. PAGES. Download (2.08 MB) No. 3. Environmental Variability and Climate Change. PAGES.

Edited by Keith Alverson, Raymond Bradley and Thomas Pedersen. Stockholm: IGBP, 31pp. (2001) (2 MB)

No. 2. Ocean Biogeochemistry and Global Change. JGOFS. Download (2.81 MB) No. 2. Ocean Biogeochemistry and Global Change. JGOFS.

Edited by Beatriz M. Baliño, Michael J. R. Fasham and Margaret C. Bowles. Stockholm: IGBP, 32pp. (2001) (2.8 MB)

 Implications for Natural and Managed Ecosystems. Download (2.05 MB) No. 1. The Terrestrial Biosphere and Global Change: Implications for Natural and Managed Ecosystems.

A Synthesis of GCTE and Related Research (1997). Edited by B. Walker and W. Steffen. Stockholm: IGBP, 31pp. (2 MB)


Oceanography Magazine, December 2009, Volume 22, Number 4

4 January, 2010 - 01:03

Oceanography merupakan suatu majalah (Megazine) yang memuat artikel dari semua aspek ilmu pengeathuan tenatng kelautan dan aplikasinya. selain itu Oceanography juga memuat dan menerbitkan berita-berita, informasi-informasi, proseding, serta resensi buku dari pertemuan-pertemuan ilmiah kelautan dan buku-buku kelautan. telah terbit sebanyak 22 volume dan saya coba tampilkan volume terakhir dari majalah ini yaitu volume 22 no 4 terbitan desember 2009. silhakan di download sesuai dengan judul dari daftar isi volume 22, no 4 tersebut. selamat menikmati.

Current Issue December 2009
Volume 22, Number 4
Special Issue on the the Future of Ocean Biogeochemistry in a High-CO2 World


SPECIAL ISSUE FEATURES

Ocean Acidification: A Critical Emerging Problem for the Ocean Sciences (688 KB pdf)
By S.C. Doney, W.M. Balch, V.J. Fabry, and R.A. Feely

An Accounting of the Observed Increase in Oceanic and Atmospheric CO2 and an Outlook for the Future (1.2 MB pdf)
By P. Tans

Ocean Acidification: Present Conditions and Future Changes in a High-CO2 World (1.2 MB pdf)
By R.A. Feely, S.C. Doney, and S.R. Cooley

Observing Ocean Acidification from Space (1.2 MB pdf)
By D.K. Gledhill, R. Wanninkhof, and C.M. Eakin

Ocean Acidification in the California Current System (5.6 MB pdf)
By C. Hauri, N. Gruber, G.-K. Plattner, S. Alin, R.A. Feely, B. Hales, and P.A. Wheeler

Effect of Ocean Acidification on the Speciation of Metals in Seawater (900 KB pdf)
By F.J. Millero, R. Woosley, B. DiTrolio, and J. Waters

Ocean Acidification and the Increasing Transparency of the Ocean to Low-Frequency Sound (392 KB pdf)
By P.G. Brewer and K. Hester

Ocean Acidification in Deep Time (1.1 MB pdf)
By L.R. Kump, T.J. Bralower, and A. Ridgwell

Coral Reefs and Ocean Acidification (1 MB pdf)
By J.A. Kleypas and K.K. Yates

Why Corals Care About Ocean Acidification: Uncovering the Mechanism (688 KB pdf)
By A.L. Cohen and M. Holcomb

Nutrient Cycles and Marine Microbes in a CO2-Enriched Ocean (644 KB pdf)
By D.A. Hutchins, M.R. Mulholland, and F. Fu

Potential Interactions Among Ocean Acidification, Coccolithophores, and the Optical Properties of Seawater (648 KB pdf)
By W.M. Balch and P.E. Utgoff

Ocean Acidification at High Latitudes: The Bellweather (720 KB pdf)
By V.J. Fabry, J.B. McClintock, J.T. Mathis, and J.M. Grebmeier

Ocean Acidification’s Potential to Alter Global Marine Ecosystem Services (464 KB pdf)
By S.R. Cooley, H.L. Kite-Powell, and S.C. Doney

Research Priorities for Understanding Ocean Acidification: Summary From the Second Symposium on the Ocean in a High-CO2 World (420 KB pdf)
By J.C. Orr, K. Caldeira, V. Fabry, J.-P. Gattuso, P. Haugan, P. Lehodey, S. Pantoja, H.-O. Pörtner, U. Riebesell, T. Trull, E. Urban, M. Hood, and W. Broadgate

European Project on Ocean Acidification (EPOCA): Objectives, Products, and Scientific Highlights (1 MB pdf)
By J.-P. Gattuso, L. Hansson, and the EPOCA Consortium

REGULAR ISSUE FEATURE

Dissolved Organic Matter in the Ocean: A Controversy Stimulates New Insights (2.8 MB pdf)
By D.A. Hansell, C.A. Carlson, D.J. Repeta, and R. Schlitzer
download figures (340 KB zipped folder containing 72 dpi jpegs)

BREAKING WAVES

Understanding How Disease and Environment Combine to Structure Resistance in Estuarine Bivalve Populations (1.1 MB pdf)
By the Delaware Bay Ecology of Infectious Diseases Group

SCIENCE AND POLICY FEATURE

Taking Ocean Research Results to Applications: Examples and Lessons from US GLOBEC (360 KB pdf)
By E. Turner and D.B. Haidvogel

DEPARTMENTS

FROM THE GUEST EDITORS (120 KB pdf)

QUARTERDECK | Making Could Into Something We Can Sell (84 KB pdf)
By E.S. Kappel

FROM THE PRESIDENT | A Healthy Ocean Matters (84 KB pdf)
By C. Thoroughgood

RIPPLE MARKS—THE STORY BEHIND THE STORY
Collision Course: Climate Change, Bears, and Humans in the Land of 10,000 Lakes • Russian Roulette: To Catch a Fish-Owl • Polar Bears’ Habitat—and Polar Bears—Shrinking • Rain-on-Snow: New Arctic Killer Fingered
(824 KB pdf)
By C.L. Dybas

THE OCEANONGRAPHY CLASSROOM | Health and Safety in the Learning Environment (120 KB pdf)
By S. Boxall

HANDS-ON OCEANOGRAPHY | Sorting Out Sediment Grain Size and Plastic Pollution (268 KB pdf)
By H.L. Spalding, K.M. Duncan, and Z. Norcross-Nu’u

AWARDS | The 2009 Walter Munk Award (124 KB pdf)

BOOK REVIEWS | Estuaries: Dynamics, Mixing, Sedimentation and Morphology • Oceanology: The True Account of the Voyage of the Nautilus • Don’t Be Such a Scientist: Talking Substance In An Age of Style (324 KB pdf)


Cara download data MODIS

13 December, 2009 - 16:42

Ingin berbagi pengalaman saat masa-masa sulit cari tau cara ngedownload citra MODIS, khususnya data citra modis resolusi spasial 250m. MODIS atau kepanjangan dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer merupakan citra yang cukup populer saat ini, khususnya bagi para pengguna yang ingin melihat sebuah trend dari rona permukaan bumi dan atmosfernya, hal ini dikarenakan citra MODIS mempunyai resolusi temporal yang sangat bagus dan terdapat pada dua buah satelit yang berbeda waktu orbitnya. Berada pada satelit yang berbeda? Yup… citra MODIS atau sensor MODIS terdapat pada dua buah satelit yang berbeda yaitu satelit Aqua dan satelit Terra makanya siring disebut Aqua MODIS dan Terra MODIS. Data-data dari MODIS di manfaatkan untuk kepentingan kelautan misalnya untuk melihat sebaran klorofil-a di lautan, suhu permukaan air laut, kepentingan daratan misalnya untuk melihat trend tutupan lahan dan suhu permukaan lahan, sedangkan untuk kepntingan atmosfer seperti profil atmosfer dan sebaran awan.

MODIS memiliki 36 band/saluran dengan 3 jenis resolusi spasial yang berbeda yaitu 250m, 500m dan 1000m. Data-data dari MODIS disediakan gratis oleh NASA pada level 1 sampai level 3. adapun langkah-langkah untuk mendownload data modis adalah sebagai berikut (khsusnya jenis data 250m):

  1. buka website MODIS yaitu http://modis.gsfc.nasa.gov/
  2. selanjutkan klik “+DATA”
  3. klik “DATA PRODUCTS”
  4. karena data 250m masih level 1B, maka klik “MOD 02 – Level-1B Calibrated Geolocated Radiances”
  5. klik “LAADS” pada DAAC Description
  6. pilih “Terra MODIS” atau “Aqua MODIS”
  7. pilih “MOD02QKM – Level 1B Calibrated Radiances – 250m” pada Kotak Products
  8. Tetukan tanggal citra yang akan di download dengan cara mengisi box “Start Date and Time” dan “End Date and Time”
  9. pada spatial selection pilih coordinate system “Latitude/Longitude”
  10. pada coverage selection cek box “Day (Granulescontain day data only)”
  11. klik “search”
  12. maka akan muncul lembaran “Search for Level 1 and Atmosphere Products” yang berisi data-data yang akan di download. Pada lembaran ini harus di cek boxnya untuk menentukan data2 yang akan di download. Karena untuk menghemat waktu download, maka sebaiknya di lihat dulu citra2nya sehinga bisa di pilih citra2 yang perlu saja. Untuk melihat citra bisa dengan mengklik “+ view RGB”. Apabila ingin mengorder seluruh data maka klik “Select Offline Checkboxes”
  13. klik “Order Files Now”
  14. selanjutnya akan muncul lembaran baru lagi dan tulis alamat email sebagai tempat pengiriman link data-data yang disorder
  15. klik “Order”
  16. akan muncul lembaran “Order Results”
  17. Cek emailnya. Bila yang di order datanya cukup banyak, kemungkinan akan cukup lama juga email baru di balas.

Untuk lebih lengkapnya mengetahui cara download data modis yang disertai dengan gambar bisa di lihat di file pdf yang saya buat ini. Klik disini untuk melihat file pdf tersebut.


Kuliner Khas Bima/Resep Ngaha Mbojo

10 December, 2009 - 11:32

Di Kutip dari Blog OmpuNdaru

Kelompok Lauk Pauk. Letak Bima yang secara geografis berada di pesisir pantai mempengaruhi selera makan orang Bima. Kebanyakan makanan Bima terdiri dari ikan dan hasil laut lainnya. Orang Bima bilang kalau belum makan pakai ikan rasanya belum makan. Orang Bima tidak mengenal kata lauk pauk, kalau daerah lain “makan pakai apa?” maksudnya lauknya apa? orang Bima akan bertanya langsung “Ngaha kai uta au?” yang artinya “makan pakai ikan apa?” jawabanya  bisa saja “ngaha kai uta janga” yang arti secara harafiahnya “makan pakai ikan ayam” atau “ngaha kai uta mbe’e” yang artinya “makan pakai ikan kambing” kata ikan biasanya menempel pada nama lauk pauk lainnya.

Walaupun orang Bima menggemari ikan laut, bukan berarti di Bima tidak mengenal makanan selain ikan. Daging Kambing adalah makanan favorit setelah ikan disusul Daging Rusa atau Menjangan, Daging Sapi, Kerbau dan Kelompok Unggas serta terakhir Daging Kuda.

Kelompok Sayuran. Daun dan Buah Kelor adalah sayuran yang paling populer di Bima, bisa dibilang selama pohon kelor melambai orang Bima tidak akan kelaparan. Pohon kelor juga adalah pohon yang bersahabat, semakin dipetik daunnya semakit lebat tumbuhnya. Selain daun dan buah kelor sayuran khas Bima ada juga “sandanawa” yang sampai saat ini saya belum tahu nama Indonesianya. Dalam Bahasa Bima sayur disebut “tambeca”, mungkin singkatan dari “uta mbeca” yang artinya “ikan basah”. Dalam Kuliner Bima memang tidak banyak dikenal sayuran yang ditumis, sayur itu selalu identik dengan makanan yang berkuah.

Kelompok Pelengkap atau Sambal. Ini paling penting, disebut demikian karena banyak sekali ragam jenis sambal, baik sambal mentah maupun matang. Enak atau tidaknya suatu santapan tergantung makanan pelengkap ini. Tidak semua sambal cocok untuk segala jenis makanan, semua ada peruntukannya masing-masing.

Kelompok Penganan/Makanan Kecil. Jenis penganan Bima banyak dipengaruhi oleh citarasa melayu, manis bersantan dan Melayu banyak dipengaruhi Timur Tengah, tidak heran ada beberapa penganan Bima yang punya citarasa Timur Tengah.

RESEP-RESEP

Kelompok Lauk Pauk

UTA PALOMARA LONDE (BANDENG KUAH SANTAN). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ikan bandeng ukuran sedang (6-7ons) bersihkan sisik dan isi perutnya (bila suka biarkan saja isi perutnya, buang empedunya saja), potong 5 bagian; 1 batang sereh dan 1 ruas jari lengkuas memarkan; 1 ikat daun kemangi atau segenggam; 1 sendok makan minyak goreng untuk menumis; 100 cc air asam jawa/bima dari 2-3 buah asam matang; 2 gelas air untuk kuah. Bumbu yang dihaluskan : 2 cabe merah; 5 butir bawang merah; 3 siung bawang putih; 1 buah tomat ukuran sedang; ½ ruas jari kunyit; Garam secukupnya. Cara membuatnya : Cara 1. Panaskan minyak, setelah panas masukkan bumbu yang sudah dihaluskan diikuti sereh dan lengkuas, setelah harum masukkan ikan bandeng aduk-aduk dan biarkan beberapa detik lalu masukkan air asam ditambah 2 gelas air. Masak di atas api sedang selama kira-kira 20 menit, setelah matang masukkan kemangi, tambahkan sedikit gula atau penyedap rasa bila suka.  Siap dihidangkan. Cara 2. Bumbu-bumbu di atas tidak dihaluskan tapi cukup diiris tipis-tipis, bila suka tambahkan irisan belimbing wuluh tetapi air asam harus dikurangi. Siapkan panci atau penggorengan. Campur minyak dan semua bumbu yang sudah diiris serta ikan bandeng ke dalam panci serta air asam dan 2 gelas air. Rebus kira-kira selama 20 menit, selanjutnya ikuti cara 1 di atas. (Rasanya lebih segar). Cara 3. Bila bandeng diganti dengan udang, rasanya hampir mirip dengan “tom yam kung” (masakan Thailand), tambahkan bubuk cabe saja dan daun jeruk lengkuas dan daun sereh diperbanyak.

PALOMARA SANTA (IKAN KUAH SANTAN). Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg pindang ikan tongkol atau pindang kembung panjar (“salepe ruma londe” bila ada), potong-potong sesuai selera; minyak untuk menggoreng ikan. Bahan dan bumbu lainnya sama seperti Resep 1 (“uta londe palomara”) kecuali air asam ditiadakan tapi diganti dengan 2 gelas santan dari ½ butir kelapa ukuran besar. Cara Membuatnya : Goreng terlebih dahulu ikan pindang tongkol di atas api sedang jangan sampai garing, goreng sebentar saja; Iris tipis-tipis semua bumbu; cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, tomat, belimbing wuluh. Panaskan minyak diatas penggorengan atau panci, setelah panas masukkan semua bumbu yang sudah diiris, lengkuas dan sereh setelah layu masukkan ikan yang sudah digoreng disusul santan. Masak selama kira-kira 15 menit setelah matang masukkan daun kemangi tambahkan sedikit gula atau penyedap rasa bila suka. Siap dihidangkan dengan sambal dhoco toma atau sambal yang bercita rasa asam.

UTA LONDE PURU (BANDENG BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor bandeng ukuran sedang (6-7ons) disayat 2-3 sayat, sisiknya dibiarkan utuh bersihkan isi perutnya bila suka biarkan saja isi perutnya, buang empedunya saja. ½ sendok makan garam yang sudah dilarutkan dalam 100 cc air matang Alat pemanggangan dan arang secukupnya. Cara membuatnya. Siapkan alat pemanggang serta arang yang sudah jadi bara, panggang ikan bandeng di atasnya balik-balik jangan sampai hangus. Setelah matang celupkan segera ikan bandeng ke dalam air garam. Hidangkan bersama “tambeca maci ro’o parongge” (lihat kelompok Sayur Mayur) serta sambal “sia dungga” atau “mbohi dungga”, “dhoco mangge moro” (lihat kelompok Pelengkap atau Sambal).

UTA KATO BHASA TARINDI MANGGE. Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg ikan kakap atau bandeng atau ikan apa saja sesuai selera tapi kalo bisa jangan ikan kembung, 1 batang sereh, 1 ruas jari lengkuas, 1 ikan atau 1 genggam kemangi. Bumbu yang dihaluskan : 2 buah cabe merah atau keriting, 10 butir kemiri, ½ ruas jari jahe, 10 butih bawang merah, 5 siung bawang putih, ½ ruas jari kunyit/bisa juga tidak pakai, 2 jumput tarindi (pucuk daun asam). Cara Membuatnya : Lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan serta campurkan dengan sereh, lengkuas dan kemangi, pepes dengan daun pisang menjadi 3 bungkus. Panaskan wajan lalu taruh ikan pepes di atasnya, bolak balik sampai matang di atas api kecil – sedang.

SUP AYAM KAMPUNG. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ayam kampung yang sedang besarnya, lebih enak kalau ayam betina tapi yang muda, yang baru 1 atau 2x bertelur, 2 lembar daun seledri, 2 ltr air untuk merebus ayam. Bumbu yang dihaluskan : 15 – 20 butir lada, 2 siung bawang putih, 3 butir bawang merah, ½ ruas jari jahe, 1 sendok the garam. Cara Membuatnya : Rebus ayam kampung sampai mendidih dan empuk, masukkan bumbu yang dihaluskan, masak sampai aromanya harum ketika sudah matang masukkan daun seledri yang sudah dipotong terlebih dahulu. Hidangkan dengan “dhoco toma”. Cara lainnya : bumbu ditumis terlebih dahulu dengan 1 sendok makan minyak goreng* tidak perlu tambahan penyedap rasa.

UTA JANGA PURU (AYAM BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ayam kapung yang sedang besarnya. Alat pembakaran beserta arang. Bumbu yang dihaluskan : 15 butir lada, 4 siung bawang putih, 3 butir bawang merah, ½ sendok makan garam, 1 sendok makan minyak goreng (campurkan pada bumbu yang dihaluskan). Cara Membuatnya : Ayam dibersihkan, dibelah dada (bekakak), potong kakinya hingga 5 cm dibawah ruas paha. Lumuri ayam dengan bumbu yang sudah dihaluskan diamkan selama 30 menit. Sementara menuggu ayam didiamkan, buatlah bara di atas pemanggang. Setelah siap, panggang ayam sambil di bolak balik agar tidak hangus. Setelah matang siap dihidangkan panas-panas dengan sambal dhoco sia dungga (sambal bawang). Kalau suka yang agak manis bisa ditambah dengan olesan madu sebelum ayamnya dipanggang.

UTA MAJU (DAGING RUSA). Daging rusa di Bima biasanya diawetkan dengan cara didendeng. Dendeng Daging Rusa Bima tidak menggunakan bumbu yang bermacam-macam sebagai layaknya dendeng pada umumnya yang menggunakan ketumbar dan gula. Dendeng rusa  Bima hanya menggunakan garam, jaman dulu mungkin orang Bima memang tidak mengenal macam-macam bumbu atau mungkin orang Bima mengutamakan rasa yang orisinil, sebuah citarasa. Ini juga patut disyukuri karena dengan jenis dendeng yang seperti ini daging rusa bisa diolah kembali menjadi berbagai macam masakan. Bukan hanya daging yang diawetkan/didendeng tapi juga tulang iga rusa juga diawetkan untuk selanjutnya menjadi bahan campuran sayur. Hm….aromanya…….beda! Saya tidak menulis pengolahan daging rusa segar karena daging rusa segar bisa dibuat bermacam-macam masakan seperti halnya daging kambing, sate gulai atau semur. Saya ingin menghadirkan yang khas Bima saja. Pada saat ini semakin sulit mendapatkan Dendeng Rusa karena populasi Rusa Bima yang sudah jauh berkurang atau mungkin bisa dikatakan sebentar lagi akan punah!

UTA MAJU PURU (DAGING RUSA BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : Dendeng Maju, potong-potong sesuai selera Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung bakar di atas nyala kompor. Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak-balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil jangan sampai tercabik-cabik biarkan utuh, bakar lagi sebentar sampai diperkirakan matang. Bila dagingnya terlalu asin bisa dicuci dulu sebelum diolah, bila masih terasa terlalu asin juga cuci lagi  setelah dimemarkan sebelum dibakar untuk kedua kalinya. Siap dihidangkan dengan sayur asam wua parongge.

UTA MAJU NCANGO (DAGING RUSA GORENG). Dendeng Maju, potong-potong sesuai selera Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung dibakar di atas nyala kompor. Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. 3 sendok makan minyak goreng. Alat penggorengan. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil jangan sampai tercabik-cabik biarkan utuh. Panaskan minyak dengan api kecil, goreng daging sudah dimemarkan. Goreng hanya sebentar saja (seperti menggoreng ikan asin). Bila dagingnya terlalu asin ikuti petunjuk di atas; cuci setelah dimemarkan lalu digoreng.

UTA MAJU NCANGO SIPA (ABON DAGING RUSA). Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg dendeng Maju. Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung bakar di atas nyala kompor.      Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. ¼ kg bawang merah (Buatlah bawang goreng untuk tabur). 10 tangkai cabe keriting potong serong, bila suka pedas (goreng untuk tabur). Bumbu Perendam : 1 gelas  air asam jawa/bima dari 1 lembar asam matang, ½ kepal gula jawa/gula merah (kurangi bila tidak suka manis), Garam sedikit (sesuaikan dengan keasinan dendeng), Penyedap rasa bila suka, ¼ ltr minyak untuk menggoreng, Alat penggorengan. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil. Suwir-suwir daging tersebut dengan menggunakan tangan, jangan terlalu halus. Bumbu Perendam : Haluskan gula, campur dengan air asam serta garam dan penyedap rasa. Masukkan daging yang sudah dicabik ke dalam bumbu perendam diamkan 30 menit. Goreng di atas api sedang setelah matang angkat dan tiriskan. Campur denga bawang goreng dan cabe goreng. Cocok untuk disimpan dan untuk perjalanan jauh.

Karena  hanya daging kering yang diasinkan, Uta Maju masih bisa dibuat bermacam-macam masakan, misalnya : Mpal goreng, dendeng balado atau bisa juga disayur atau masakan yang berkuah.

SOTO KAMBING. Soto kambing termasuk makanan favorit di Bima. Sepertinya masakan satu ini aslinya dari Madura karena sebagaian besar penjual Soto di Bima adalah orang Madura. Meskipun berasal dari Madura tentu saja tentu saja sudah mengalami perubahan yang telah disesuaikan dengan selera orang Bima, rasanya segar meskipun bersantan. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 kg daging kambing (campur iga, jeroan dan daging), 3 lembar daun jeruk, 2 lembar sereh, 2 ruas jari lengkuas(memarkan), 3 butir cengkeh, 3 gelas santan dari 1 butir kelapa, 3 ltr air untuk rebus daging, 3 sendok makan minyak goreng. Bumbu yang dihaluskan : ½ sendok teh merica, 1 sendok teh ketumbar, ½ jintan, 7 butir kemiri, 1 ruas jari jahe, 1 ruas jari kunyit, 3 buah cabe merah (keluarkan bijinya), 10 butir bawang merah, 6 siung bawang putih, ½ makan garam. Pelengkap : Lontong, Sambal (rebus cabai dan haluskan bersama sedikit garam), Kecap, Bawang goreng untuk taburan, Acar (ketimun dan bawang merah), Jeruk Nipis. Cara membuatnya : Panaskan minyak, lalu tumis bumbu halus masukkan sereh, lengkuas, daun jeruk dan cengkeh. Setelah harum masukkan daging, aduk-aduk sampai daging layu, biarkan beberapa menit setelah air mengering masukkan air, rebus sebentar lalu masukkan santan, rebus sampai daging empuk, masukkan penyedap rasa sedikit bila suka. Hidangkan bersama lontong dan pelegkap lainnya.

SARONCO PEKE (ASAM-ASAM TULANG IGA SAPI). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 kg tulang iga sapi, 2 cm lengkuas (memarkan), 1 lembar daun sereh, 1 ikat pataha doro (daun ruku-ruku), 1 buah tomat besar (potong-potong), 1 gelas air asam dari 3 lembar asam matang, Air secukupnya untuk merebus tulang iga, Bumbu yang dihaluskan : 2 buah cabe besar (keluarkan bijinya), 20 butir lada, ½ sendok teh ketumbar, 1 ruas jari kunyit, 1 tomat kecil, 1 sendok makan minyak goreng, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Rebus tulang iga sampai setengah empuk, diamkan sampai dingin, setelah dingin angkat dan buang lemak-lemak yang mengambang menutupi kuah. Panaskan kembali. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan setelah harum angkat dan masukkan ke dalam panci yang berisi tulang iga diikuti bumbu lainnya; tomat, sereh, lengkuas dan terakhir daun ruku-ruku (dimasukan menjelang matang/diangkat).

Kelompok Sayur Mayur

UTA MBECA RO’O PARONGGE (SAYUR DAUN KELOR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk), 1 genggam tauge pendek, 1 ikat kangkung, 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan), 5 butir bawang merah (potong-potong), 1 batang tamu kunci (potong-potong), 2 liter air. Bumbu-bumbu : Garam secukupnya, Gula secukupnya, Penyedap rasa sedikit bila suka. Cara Membuatnya : Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2 cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1 cm. Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri. Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimasukkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendir. Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang. Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange.

UTA MBECA SARONCO WUA PARONGGE (SAYUR ASAM DAUN KELOR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 8 batang buah kelor yang besar tapi tidak tua, 1 ikat kangkung, 5 butir bemea (okra), 6 butir bawang merah (potong-potong), 1 buah tomat ukuran besar, 2 liter air, 1 gelas air asam dari 3batang asam matang. Bumbu-bumbu : Garam secukupnya, Gula seujung sendok teh, Penyedap rasa sedikit bila suka. Cara membuatnya : Siangi buah kelor dengan cara membuang kulitnya kemudian potong sepanjang 7 atau 8 cm, kangkung dipotong-potong, okra dipotong-potong kira-kira 1-2 cm (pisahkan), tomat dan bawang dipotong-potong. Rebus air hingga mendidih, masukkan buah kelor terlebih dahulu kemudian diikuti sayuran lainnya. Masukkan bawang merah, tomat dan air asam serta garam dan gula. Masak terus hingaga matang jangan sampai terlalu matang karena buah kelor akan terpisah-pisah dan bamea akan terlalu berlendir.

UTA MBECA SANDANAWA DENGAN RUSUK RUSA KERING. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 6 kepal atau bulatan daun sandanawa yang sudah direbus terlebih dahulu dan sudah diperas seperti daun singkong yang akan digulai, 1-2 batang rusuk rusa kering (potong-potong sesua selera), 2 gelas santan kental dari 1 kelapa dan 3 gelas santan encer dari kelapa yang sama, 1 batang sereh, 1 ruas jari lengkuas memarkan. Bumbu-bumbu : 3 biji cabe keriting (potong-potong), 7 biji bawang merah (potong-potong), 3 siung bawang putih (potong-potong), 1 buah tomat sedang (potong-potong), Garam secukupnya, 1 sendok minyak goreng (ini pilihan boleh juga tidak ditumis), Cara Membuatnya : Rebus daun sandanawa dan tulang rusuk dengan santan encer bila airnya kurang tambahkan air biasa, rebus sampai mendidih. Tumis bumbu yang sudah dipotong-potong setelah layu masukkan kedalam sayur diikuti garam dan santan kental, masak terus sambil diaduk-aduk sampai mendidih.

Kelompok makanan pelengkap

MANGGEMADA (GULAI JANTUNG PISANG). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 buah jantung pisang kepok, 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan), 1 gelas santan kental dari 1 kelapa, 300 gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya), 1 butir jeruk nipis (ambil airnya). Bumbu-bumbu (potong-potong sesuai selera) : 5 buah cabe keriting, 7 butir bawang merah, 5 buah belimbing wuluh, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya), Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong  lalu diperas (buang air getirnya), Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam. Masukkan santan dan air jeruk nipis, terakhir masukkan udang yang sudah direbus.

Udang dapat digantikan dengan : Cumi atau Ikan Pari yang dipindang atau Cingur Sapi/Kulit yang dibakar terlebih dahulu.

MBOHI JAME. Bahan-bahan yang dibutuhkan : ¼ kg mbohi mene (ikan teri basah yang sudah difermentasi), cuci lalu tiriskan, 1 sendok makan minyak goreng, 300 ml santan dari ½ buah kelapa, 1 genggam daun kemangi, 1 lembar sereh, 1 ruas jari lengkuas, 10 buah cabe rawit biarkan utuh, Garam secukupnya. Bumbu-bumbu (semuanya diiris-iris) : 5 cabe keriting, 10 butir bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 buah tomat, 5 buah belimbing wuluh, 1 ruas jari kunyit, Cara membuatnya : Panaskan minyak dan tumis semua bumbu yang sudah diiris-iris diikuti sereh, lengkuas, setelah harum masukkan mbohi mene aduk aduk sebentar lalu masukkan santan, garam secukupnya dikira-kira garamnya mengingat mbohi mene sudah asin. Masukkan cabe rawit setelah matang dan santan berkurang masukkan kemangi lalu angkat. Kalau tidak ada mbohi mene bisa digantikan dengan ikan teri basah tetapi sebelum dimasak digarami terlebih dahulu dan biarkan menjadi layu (tidak perlu dimasukkan ke dalam lemari es) sampai hendak dimasak. Rasanya lebih segar.

TUMI SEPI (TUMIS). Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut tarsuku. Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 2 sendok makan Sepi, 1 ruas jari lengkuas, 1 lembar sereh, 2 genggam kemangi, 1 sendok makan minyak goreng, 100 ml air. Bumbu-bumbu (Semuanya diiris-iris) : 10 butir bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 buah tomat ukuran besar, 7 buah belimbing sayur, 5 buah cabe keriting, 1-15 buah cabe rawit biarkan utuh, Garam secukupnya, Gula pasir ½ sendok teh. Cara Membuatnya : Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100 ml air, aduk-aduk terus hingga matang. Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat. Siap dihidangkan dengan lalapan. Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening.

SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir). Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado).

DHOCO TOMA (SAMBAL TOMAT). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 2 tomat (iris tipis-tipis), 1 timun (buang kulitnya, dicacah-cacah, buang bijinya), 3 buah cabe rawit (potong kecil-kecil, atau gerus kasar), 6 butir bawang merah, 1 jumput tauge pendek, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Cuci semua bahan-bahan. Campur semua bahan-bahan, aduk-aduk pakai sendok sampai tercampur dengan baik dan biarkan sebentar sebelum disantap agar bahan- bahan agak layu sehingga kalau disantap tidak kaku. (Cara instant agar cepat layu : bahan dicampur sambil sedikit diremas-remas).

SIA DUNGGA (SAMBAL BAWANG). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 10 butir bawang merah (potong melintang, agak tebal), 5 buah cabe boleh pilih cabe keriting atau rawit tergantung selera (potong melintang), Garam secukupnya, 2 jeruk nipis (ambil airnya), ¼ sendok gula (bila suka). Cara Membuatnya : Cuci semua bahan-bahan. Campur semua bahan-bahan, tiriskan lalu masukkan garam dan air jeruk nipis serta sedikit gula. Untuk tampak cantik bawang dicuci terlebih dahulu sebelum dipotong-potong. Dan juga bisa ditambahkan cabe merah besar yang dipotong melintang tipis sebagai hiasan.

MBOHI DUNGGA (SAMBAL FERMENTASI JERUK NIPIS). Sambal ini khusus diproduksi di Desa Parado secara turun temurun. Sederhana saja bahan dan cara pembuatannya. Terbuat dari jeruk (jeruk khusus yang ada di Parado semacam jeruk Medan tapi rasanya asam) yang dibuang kulit dan bijinya serta diiris-iris lalu dicampurkan dengan garam. Dibiarkan selama berminggu-minggu (difermentasi). Jadilah sambal siap saji tahan bertahun-tahun.

Kelompok Penganan (Makanan kecil)

BINGKA DOLU. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 500 gr tepung terigu, 500 gr telur, 400 gr gula pasir, 5 gelas santan dari 2 kelapa ukuran sedang, 1 gelas air pandan suji (untuk pewarna hijau), ½ sendok teh garam, Minyak untuk mengoles cetakan. Cara Membuatnya : Campur telur dan gula kemudian kocok sebentar sampai gula hancur dan berbuih (tidak sampai mengembang), Masukkan santan dan air suji serta garam dan aduk-aduk, Masukkan terigu sedikit demi sedikit, aduk terus sampai tercampur dengan baik, Panaskan cetakan, olesi dengan minyak atau mentega setelah panas tuangi adonan setengah sampai tiga per empat cetakan saja (jangan penuh), tutup. Setelah matang angkat dengan menggunakan 2 sendok makan. Pastikan cetakan terbuat dari kuningan yang menghantarkan panas dengan baik.

SRIKAYA. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 500 gr telur, 400 gr gula merah, 4 gelas santan dari 4 kelapa ukuran sedang, ½ sendok teh garam, 1 ruas jari kayu manis, 5 lembar daun pandan, 1 loyang atau mangkok tahan panas, Dandang atau panci ukuran besar (yang memuat loyang). Cara Membuatnya : Rebus gula merah dengan segelas air, masukkan kayu manis dan daun pandan. Setelah gula cair angkat, dinginkan lalu saring. Kocok telur sebentar (kocok tangan saja, jangan sampai mengembang) setelah itu campurkan dengan santan dan gula serta garam, aduk-aduk sampai tercampur dengan baik. Masukkan adonan ke dalam loyang, Siapkan dandang berisi air untuk merebus. Taruh loyang berisi adonan ke dalam dandang dengan posisi air merendam setengah sampai tiga per empat loyang. Rebus selama 1-2 jam (periksa airnya sekali-sekali jangan sampai habis (tambahkan bila perlu). Pastikan air merendam loyang berisi adonan untuk mendapatkan tekstur srikaya yang lembut dan berserat bolong-bolong.

Dikutip dari Email yang pernah dikirim oleh Nurjanah Bakti.

Pranala di Blog ini:

Rawa Mbojo Bentuk 3 Dimensi Kota Bima/Dana mBojo

Memanfaatkan data SRTM untk membuat garis kontur dengan ArcView

7 December, 2009 - 18:10

Seperti yang telah disebutkan pada artikel sebelumnya disini, data SRTM atau Shuttle Radar Topography Mission merupakan suatu bentuk data yang menyediakan informasi tentang ketinggian tempat atau biasa disebut DEM (Digital elevation Model) dan menurut Ozah and Kufoniyi (2008) data SRTM 90 ini memiliki akurasi vertikal lebih kurang 7.748 sampai 3.926 meter. Dari data ketinggian ini kita bisa mebuat sebuah garis kontur. Garis Kontur adalah sebuah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama dipermukaan Bumi. Data kontur yang dihasikan dari analisis data SRTM maksimumnya adalah untuk peta berskala 1 : 50.000 atau maksimum interval kontur yang dihasilkannya adalah berinterval 25 m (Ozah and Kufoniyi, 2008).

Bahan-bahan yang perlu diracik untuk membuat peta kontur ini tentu saja sebuah data SRTM yang bisa di download disini. Sedangkan alat-alatnya ya pastinya program ArcView (krn kita menggunakan ArcView) dan extensions spatial analyst.

Acara masak memasaknya kita lanjutkan…

eh salah ding… :mrgreen:

Setelah bahan dan alat kita kumpulkan maka langkah pertama adalah membuka data SRTM menggunakan ArcView yang langkah-langkahnya sudah saya tulis diartikel disini. Dan hasilnya seperti gambar di bawah

Selanjutnya potong data SRTM itu sesuai dengan lokasi yang diinginkan. Dan juga langkah-langkahnya sudah saya tulis disini… :D Dalam kasus ini saya potong datanya hanya untuk daerah Bali Barat seperti gambar di bawah

Klo sudah maka pilih menu surface dan sub menu create contours. Bila tidak memiliki menu surface, maka cari menu Analysis dan sub menu create contours. Spt gambar di bawah Selanjutnya akan muncul kotak dialog Contour Parameters. Di kolom Contour interval isilah interval kontur yang di inginkan, sedangkan pada kolom base contour biarkan tetap bernilai 0 (nol). Seperti contoh di bawah, interval konturnya adalah 100 m. Klik OK Tunggu beberapa saat sampai muncul garis kontur seperti gambar di bawah…

Selamat mencoba… :)


Ebook USLE (Walter H. Wischmeier and Dwight D. Smith)

9 November, 2009 - 18:29

CoverBagi para pencinta Tanah atau mungkin lebih senang di sebut Soilers, ada kabar gembira buat para Soilers ini. setelah lama mencari-cari dan mengubek-ubek dunia maya yang sangat luas ini akhir didapatkan juga mbahnya buku untuk prediksi erosi. ya bukunya si mbah eyang Walter H. Wischmeier dan Dwight D. Smith, buku yang selalu menjadi patokan para peneliti yang memprediksi erosi menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation). Buku yang melegenda tersebut berjudul “Predicting rainfall erosion losses – A guide to conservation planning”.

seperti yang sudah disebutkan disini, Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) merupakan metode yang umum digunakan untuk memperediksi laju erosi. Selain sederhana, metode ini juga sangat baik diterapkan di daerah-daerah yang faktor utama penyebab erosinya adalah hujan dan aliran permukaan. Wischmeier mengatakan bahwa metode USLE didesain untuk digunakan memprediksi kehilangan tanah yang dihasilkan oleh erosi dan diendapkan pada segmen lereng bukan pada hulu DAS, selain itu juga didesain untuk memprediksi rata-rata jumlah erosi dalam waktu yang panjang.

Selain bukunya mbah eyang Walter H. Wischmeier dan Dwight D. Smith yang berjudul “Predicting rainfall erosion losses – A guide to conservation planning” tersebut, ada buku lain dari mereka, buku yang lahirsebelum buku tersebut. Adapun judul buku tersebut adalah “Predicting Rainfal-Erosion Losses from Cropland East of The Rocky Mountains: Guide for Selection of Practices for Soil and Water Conservation”.

Nah mudah-mudahan kedua buku ini menjadikan kita lebih bisa belajar lebih baik karena buku aslinya sudah punya. Dan juga buku ini bisa menjadikan kita bisa memiliki refrensi asli dari mbah eyang Walter H. Wischmeier dan Dwight D. Smith dan ga terus menerus menulis refresinya seperti Wischmeier, W.H., and D.D. Smith. 1978. Predicting rainfall erosion losses – A guide to conservation planning. U.S. Department of Agriculture. Agricultural Handbook 537, U.S. Government Printing Office, Washington, DC. Tapi ternyata bukunya tidak ada :mrgreen: . Bukunya bisa di download di (klik judul buku):

Wischmeier, W.H., and D.D. Smith. 1978. Predicting rainfall erosion losses – A guide to conservation planning. U.S. Department of Agriculture. Agricultural Handbook 537, U.S. Government Printing Office, Washington, DC.

Wischmeier, W.H., and D.D. Smith. 1965. Predicting Rainfall-Erosion Losses from Cropland East of the Rocky Mountains: Guide for Selection of Practices for Soil and Water Conservation. U.S. Department of Agriculture. Agricultural Handbook 282, U.S. Government Printing Office, Washington, DC.


Gas Metan (Methane Gas): Masa Hidup dan Sumbernya

2 November, 2009 - 17:32

Peta Sebaran Gas Metan Secara Global

Selain gas CO2, gas metan merupakan gas yang sangat penting dalam hubungannya sebagai gas rumah kaca (GRK). Gas ini mampu memerangkap panas 21 kali lebih kuat dibandingkan dengan gas CO2 (nilai GWP – The Greenhouse Warming Potential – gas metan adalah 21, CO2 nilai GWPnya 1 sedangkan NO2 nilai GWPnya adalah 310) (Hardy, 2003), akan tetapi masa hidup gas ini di atmosfer cukup pendek yaitu 7,9 tahun dan bila kita bandingkan dengan gas CO2 yang mencapai 50-200 tahun, NO2 adalah 120 tahun, CFC-11 adalah 50 tahun, dan CFC-12 adalah 102 tahun (Lelieveld et al., 1998; Hardy, 2003).

Gas metan diproduksi oleh mikrobia dalam keadaan anaerob. Secara alamiah lahan gambut, rawa dan sediment di daerah pantai merupakan sumber utama dari gas metan di atmosfer (Hardy, 2003), akan tetapi manusia juga berperan penting terhadap peningkatan gas metan di atmosfer, terutama sejak jaman pra industri yaitu melalui kegiatan-kegiatan peternakan, pertanian padi sawah, sampah, pembakaran batubara dan penggunaan minyak bumi.

Sebagian besar gas metan di atmosfer hilang bersama proses oksidasi oleh hydroxyl radikal (OH) di troposfer dan sekitar 7-11% hilang di stratosfer, selain itu CH4 yang dikonsumsi oleh bakteri ditanah menyumbang menghilangkan CH4 atmosfer sekitar 1-10% (Lelieveld et al., 1998)

Jumlah gas metan (CH4) di atmosfer adalah sekitar 4850 Tg CH4 (1 Tg = 10E12 g = 1 juta ton) dan rata-rata emisi gas metan secara global adalah sekitar 500-600 Tg per tahun (Yamaji et al., 2003; Butenhoff and Khalil, 2007). Dari 600 Tg CH4 yang diemisikan tersebut 24,17 persen (145 Tg) berasal dari lahan gambut, penggunaan energi sekitar 18,33 persen (110 Tg), emisi dari padi sawah sekitar 13,33 persen (80 Tg) dan Peternakan sekitar 13,33 persen (80 Tg) (Lelieveld et al., 1998).

Hasil hitung-hitungan oleh Yamaji et al. (2003) terhadap emisi gas metan dari seluruh kegiatan peternakan di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur menunjukkan bahwa emisi gas metan untuk wilayah ini mencapai 29,9 Tg CH4 per tahun atau sekitar 32 persen dari total emisi peternakan yang dihasilkan secara global. Dimana Negara India merupakan penyumbang tersebesar gas ini yaitu sebesar 11,77 Tg pertahun dan Cina menempati urutan kedua yaitu 10,40 Tg per tahun. Urutan ketiga ditempati oleh Pakistan yaitu sebesar 1,85 Tg per tahun, dan urutan ke empat oleh Negara Banglades sebesar 0,94 Tg per tahun.

Indonesia berada di urutan ke lima yaitu sebesar 0,85 Tg CH4 per tahun dimana peternakan sapi menyumbang emisi CH4 paling besar untuk wilayah Indonesia yaitu sebesar 0,55 Tg per tahun. Yamaji et al. (2003) juga membuat peta sebaran emisi yang disumbangkan oleh kegiatan peternakan yang dapat dilihat pada gambar di bawah. Satuan emisinya adalah dalam Gg CH4 per tahun (1 Gg = 10E9 = 1000 Ton).

Peta Metan

Keppler et al. (2006) menghitung emisi gas metan yang disebabkan oleh tanaman pada kondisi aerobik, dan hasil estimasinya menunjukkan bahwa vegetasi mengemisikan gas metan sebesar 149 Tg CH4 per tahun dimana hutan tropis sebagai penyumbang paling besar yaitu sekitar 78,2 Tg per tahun dan padang rumput tropis sebagai penyumbang terbesar kedua yaitu sebesar 29.2 Tg per tahun. Akan tetapi hasil perhitungan Parsons et al. (2006), vegetasi secara global menyumbang emisi CO2 hanya sebesar 52,7 Tg CH4 per tahun. Perhitungan ini lebih dekat dengan hasil perhitungan Butenhoff and Khalil (2007) untuk vegetasi yaitu sebesar 14-60 Tg CH4 pertahun.

Pertanian padi sawah, khususnya sawah teririgasi juga merupakan penyumbang terbesar gas metan ke atmosfer. Secara global diperkirakan sekitar 18 sampai 280 Tg gas metan per tahun dilepas ke atmosfer oleh pertanian padi sawah (Bachelet and Neue, 1993). Sedangkan IPCC (1992) memperkirakan sekitar 100 Tg gas metan per tahun yang dilepas oleh lahan padi sawah di seluruh dunia (Neue et al., 1996; Wassmann et al, 1993). Kondisi lahan sawah yang tergenang menyebabkan kondisi lingkungan yang sangat baik bagi terbentuknya gas metan. Dari 18 negara penghasil beras di Asia, Indonesia menempati urutan ke enam penghasil gas metan bersama Negara Myanmar, dimana setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,7 Tg gas metan setiap tahunnya (Bachelet and Neue, 1993). Akan tetapi hasil estimasi Husin et al. (1995) total emisi gas metan oleh Indonesia adalah 4 Tg per tahun. Kondisi ini masih jauh dari emisi gas metan yang dihasikan oleh India dan Cina dimana setiap tahunnya negara-negara tersebut mengemisikan gas metan sebesar 27,6 Tg dan 21,6 Tg per tahun (Bachelet and Neue, 1993).

Pada tahun-tahun sebelumnya sumber gas metan dari geologi biasanya tidak dipertimbangkan, akan tetapi akhir2 ini sumber gas tersebut dipertimbangkan khususnya dari kegiatan geothermal dan letusan gunung api. Dari hasil letusan gunung api diperkirakan sekitar 5 – 13 Tg per tahun gas metan dilepaskan ke atmosfer (Etiope and Milkov, 2004 dalam Etiope, 2004), sedangkan dari proses geothermal emisi gas metan per tahunnya diperkirakan sekitar 2,5-6,3 Tg (Etiope and Klusman, 2002 dalam Etiope et al., 2007). Di Eropa, diperkiran gas metan yang dilepaskan dari proses letusan gunung api dan geothermal adalah sekitar 4000-16000 ton per tahun dimana hanya sekitar 720 ton yang berasal dari letusan gunung api (Etiope et al., 2007). Dan dari seluruh kegitan geologi secara global, gas metan yang diemisikan di udara adalah sekitar  40-60 Tg per tahun (Etiope, 2004).

Mudah-mudahan sekelumit informasi ini berguna bagi semua orang agar kita selalu waspada akan bencana pemanasan global dan perubahan iklim. Serta agar kita senantiasa bisa memperikirakan efek dari apa yang kita perbuat dan kita rencanakan.

Daftar Pustaka

Bachelet, D., and H.U. Neue .1993. Methane Emissions from Wetland Rice Areas of Asia. Chemosphere, Vol.26, Nos. 1-4, pp 219-237

Butenhoff, C.L., and M.A.K. Khalil. 2007. Global Methane Emissions from Terrestrial Plants. Environ. Sci. Technol, 41. 4032-4037.

Etiope, G. 2004. New Directions: GEM-Geologic Emissions of Methane, the missing source in the atmospheric methane budget. Atmospheric Environment, 38. 3099–3100

Etiope, G., T. Fridriksson, F. Italiano, W. Winiwarter, and J. Theloke. 2007. Natural emissions of methane from geothermal and volcanic sources in Europe. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 165. 76–86

Hardy, J.T. 2003. Climate Change: Causes, Effects, and Solutions. John Wiley & Sons Ltd, The Atrium, Southern Gate, Chichester, West Sussex PO19 8SQ, England

Husin, Y.A., D. Murdiyarso, M.A.K. Khalil, R.A. Rasmussen, M.J. Shearer, S. Sabiham, A. Sunar, and H. Adijuwana. 1995. Methane Flux from Indonesian Wetland Rice: The Effects of Water Management and Rice Variety. Chemosphere, Vol. 31, No. 4, pp. 3153-3180

Keppler, F., J.T.G. Hamilton, M. Braß, and T. Ro¨ckmann. 2006. Methane emissions from terrestrial plants under aerobic conditions. Nature, 439. 187–191.

Lelieveld, J., P.J. Crutzen, and F.J. Dentener. 1998. Changing concentration, lifetime and climate forcing of atmospheric methane. Tellus, 50B. 128–150.

Neue, H.U., R. Wassmann, R.S. Lantin, MaC.R. Alberto, J.B. Aduna, and A.M. Javellana. 1996. Factors Affecting Methane Emission from Rice Fields. Atmospheric Environment, Vol. 30, Nos 10/11, pp. 1751 – 1754.

Parsons, A.J., P.C.D. Newton, H. Clark, and F.M. Kelliher. 2006. Scaling methane emissions from vegetation. Trends in Ecology and Evolution, Vol.21 No.8. 423-424.

Wassmann, R., H. Papen, and H. Rennenberg. 1993. Methane Emission from Rice Paddies and Possible Mitigation Strategies. Chemosphere, Vol.26, Nos. 1-4, pp 201-217.

Yamajia, K., T. Oharaa, and H. Akimoto. 2003. A country-specific, high-resolution emission inventory for methane from livestock in Asia in 2000. Atmospheric Environment, 37. 4393–4406.


Peta RBI Kota Padang Skala 1:10.000 Dari BAKOSURTANAL (format file: png)

5 October, 2009 - 19:12

Sebagai salah satu instutusi yang bergerak pada bidang pemetaan, BAKOSURTANAL telah mengupluad peta-peta rupabumi skala 1:10.000 untuk kepentingan penanganan gempa yang terjadi di Sumatera Barat… salut untuk bakosurtanal atas partisipasinya tersebut. peta-pata ini sangat bermanfaat sekali bagi para sukarelawan pasca gempa maupun keluarga korban gempa yang ingin tau peta Kota Padang dan sekitarnya. apalagi peta ini cukup detail dengan skala 1:10.000.

File2 tersebut bisa didownload di www.bakosurtanal.go.id yang tautannya juga saya simpan di sini. klik gambar untuk mendapatkan file pngnya. semoga bermanfaat untuk semua…

RBI 10K 0714-6247 RBI 10K 0714-6248 0714-6247 (1,52 MB) 0714-6248 (2,42 MB) RBI 10K 0714-6249 RBI 10K 0714-6413 0714-6249 (4,06 MB) 0714-6413 (0,8 MB) RBI 10K 0714-6415 RBI 10K 0714-6416 0714-6415 (0,98 MB) 0714-6416 (1,21 MB) RBI 10K 0714-6418 RBI 10K 0714-6419 0714-6418 (0,93 MB) 0714-6419 (2,28 MB) RBI 10K 0714-6421 RBI 10K 0714-6422 0714-6421 (2,53 MB) 0714-6422 (4,39 MB) RBI 10K 0714-6423 RBI 10K 0714-6424 0714-6423 (4,37 MB) 0714-6424 (4,15 MB) RBI 10K 0714-6425 RBI 10K 0714-6427 0714-6425 (5,62 MB) 0714-6427 (5,42 MB) RBI 10K 0714-6433 RBI 10K 0714-6436 0714-6433 (1,34 MB) 0714-6436 (0,99 MB) RBI 10K 0714-6439 RBI 10K 0714-6441 0714-6439 (0,88 MB) 0714-6441 (5,48 MB) RBI 10K 0714-6442 RBI 10K 0714-6444 0714-6442 (5,68 MB) 0714-6444 (3,23) RBI 10K 0714-6445 RBI 10K 0714-6447 0714-6445 (5,41 MB) 0714-6447 (4,34 MB) RBI 10K 0714-6448 RBI 10K 0715-3213 0714-6448 (5,48 MB) 0715-3213 (3,15 MB) RBI 10K 0715-3216 RBI 10K 0715-3219 0715-3216 (2,67 MB) 0715-3219 (3,52 MB) RBI 10K 0715-3221 RBI 10K 0715-3224 0715-3221 (5,25 MB) 0715-3224 (4,52 MB) RBI 10K 0715-3227 RBI 10K 0715-3232 0715-3227 (4,28 MB) 0715-3232 (1,73 MB) RBI 10K 0715-3233 RBI 10K 0715-3234 0715-3233 (4,27 MB) 0715-3234 (1,04 MB) RBI 10K 0715-3235 RBI 10K 0715-3236 0715-3235 (3,4 MB) 0715-3236 (4,8 MB) RBI 10K 0715-3237 RBI 10K 0715-3238 0715-3237 (2,3 MB) 0715-3238 (3,4 MB) RBI 10K 0814-4137 RBI 10K 0814-4138 0814-4137 (4,26 MB) 0814-4138 (4,94 MB)

Selain itu ada juga peta RBI Skala 250.000 untuk daerah Padang, Jambi, Bengkulu dan sekitarnya ( format file: jpeg)

0614 (53,1 MB) 0712 (23,6 MB) 0614 (53,1 MB) 0712 (23,6 MB) 0713 (54,8 MB) 0714 (25 MB) 0713 (54,8 MB) 0714 (25 MB) 0715 (26,7 MB) 0716 (27,2 MB) 0715 (26,7 MB) 0716 (27,2 MB) 0812 (25,4 MB) 0813 (58,1 MB) 0812 (25,4 MB) 0813 (58,1 MB) 0814 (29,9 MB) 0815 (25 MB) 0814 (29,9 MB) 0815 (25 MB) 0816 (31,2 MB) 0913 (58,3 MB) 0816 (31,2 MB) 0913 (58,3 MB) 0914 (62,3 MB) 0915 (29,1 MB) 0914 (62,3 MB) 0915 (29,1 MB) 1013 (26,7 MB) 1014 (9,06 MB) 1013 (26,7 MB) 1014 (9,06 MB) 1015 (26,2 MB) 1015 (26,2 MB)

dan tambahannya adalah Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLN 03) dan Peta Antisipasi Penanggulangan Tsunami Kota Padang

Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLN 03)

Peta Antisipasi Penanggulangan Tsunami


Kenapa banyak Indeks Vegetasi menggunakan panjang gelombang merah dan infra merah dekat? (1)

2 October, 2009 - 14:51

Yang paling penting dari data penginderaan jauh (PJ) adalah adanya resolusi atau tingkat kepekaan sensor (alat perekam objek) terhadap tingkat pemisahan objek dipermukaan bumi. Ada 4 jenis resolusi yaitu resolusi spasial yang berhubungan dengan besar pixel/pemisahan objek terkecil, resolusi spektral berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan panjang gelombang, resolusi temporal berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan waktu dan resolusi radiometrik yang berhubungan dengan pemisahan objek berdasarkan kekuatan sinyal. Karena kita berbicara tentang indeks vegetasi, maka yang difokuskan adalah tentang resolusi spektralnya.

Indeks vegetasi merupakan suatu persamaan matematik sederhana (sebagian besar :D ) yang menggabungkan beberapa band atau saluran panjang gelombang yang menghasikan satu data baru yang diasumsikan sebagai suatu nilai indeks yaitu indeks vegetasi. Kenapa dibilang “asumsi”? karena nilai indeks ini akan berbeda2 bila mengunakan persamaan indeks vegetasi yang berbeda2 pula.

Indeks vegetasi yang paling tua adalah Ratio Vegetation Index (RVI) yang dipublikasikan oleh Jordan (1969) dan yang paling terkenal adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang dipublikasikan oleh Deering (1978). Kedua indeks ini menggunakan band/saluran pada panjang gelombang infra merah dekat (NIR) dan merah (red). Kenapa musti NIR dan merah?

Tiga proses penting dalam PJ yaitu pemantulan cahaya oleh objek (reflectance), penyerapan cahaya oleh objek (Absorptance) dan pelolosan cahaya oleh objek (Transmittance). Tanaman, lebih spesifiknya daun juga mengalami tiga proses ini terhadap cahaya matahari yang diterimanya. Kita melihat daun bisanya berwrna hijau, kenapa? Karena dari seluruh cahaya matahari yang diterima, daun hanya memantulkan cahaya spesifik yang berwarna hijau yaitu pada panjang gelombang sekitar 0.55 µm, tapi ini yang terlihat. Sebenarnya yang terjadi, pemantulan maksimum pada daun terjadi pada panjang gelombang inframerah dekat (NIR), karena mata manusia hanya menangkap cahaya pada panjang gelombang mejikuhibiu, masih ingatkan apa itu menjikuhibiu…? atau pada panjang gelombang 0.4-0.7 µm atau juga panjang gelombang visible maka yang terlihat adalah pantulan yang berwarna hijau, sedangkan infra merah dekat, karena dah kluar dari mejikuhibiu… ga terlihat karena panjang gelombang inframerah dekat itu berada pada sekitar panjang gelombang 0.75-1.35 µm. Seandainya mata manusia bisa menangkap panjang gelombang ini, maka daun akan terlihat sangat merah karena daun memantulkan gelombang ini sekitar 60%, coba bandingkan dengan gelombang hijau yang hanya sekitar 20% (Jensen, 2000). Ga bisa dibayangkan dah bagaimana silaunya tuh daun. Contohnya pada gambar dibawah. Gambar atas adalah pengambilan gambar mengunkan panjang gelombang mejikuhibiu, gambar yang dibawah menggunakan NIR. Kelihatan merah semuakan vegetasi yang masih bagus waktu pake NIR (memantulkan cahaya NIR), sedangkan vegetasi yang dah kering kelihatan putih (menyerap cahaya NIR). 2Inilah dasar kenapa band/saluran NIR lebih dipilih untuk dijadikan salah satu band dalam mencari indeks vegetasi selain juga alasan2 lain seperti tingkat penyerapan cahaya oleh vegeteasi yang rendah, tingkat pelolosan cahaya oleh vegetasi yang cukup tinggi, dan pemantulan cahayanya tidak dipengaruhi oleh kloroplas didalam daun. Tingkat pemantulan cahaya yang tinggi oleh daun ini dikontrol oleh struktur daun, khususnya oleh jaringan mesofil gabus karena adanya ruang antar sel dimana ketebalan daun, adanya epiticular lilin dan umur daun juga mempengaruhi tingkat penyerapan cahaya ini (Slaton et al., 2001). Epiticular lilin dapat meningkatkan pemantulan gelombang NIR oleh daun sekitar 5-20% (Mulroy, 1979). Pada gambar dibawah terlihat dengan jelas bagaimana pengaruh ketebalan daun terhadap pemantulan gelombang NIR

3Secara umum, daun tanaman memantulkan 2 jenis cahaya yaitu hijau dan NIR dan menyerap 2 jenis cahaya juga yaitu biru dan merah, seperti yang terlihat pada gambar dibawah.

4

Akan tetapi banyak persamaan indeks2 vegetasi yang menggunakan panjang gelombang merah dibandingkan panjang gelombang biru yang dikarenakan oleh sensitivitas panjang gelombang merah terhadap perubahan klorofil. Gelombang biru terserap oleh tanaman karena adanya pigmen klorofil-a, klorofil-b dan karotin, sedangkan gelombang merah terserap oleh tanaman karena adanya klorofil-a dan klorofil-b. Seperti terlihat pada gambar di bawah.

5

Ceritanya akan dilanjutkan nanti setelah dapat data2 yang bagus untuk di tampilkan…



All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.