Planet Geo Indonesia

Indonesian GIS & Geo-related blogs aggregator
Agregator blog GIS & Geo Indonesia

PGIS - SIGaP

Syndicate content
Untuk kegiatan-kegiatan Pengurangan Risiko Bencana dan Masalah-masalah Kesehatan Berbasis Masyarakat
Updated: 2 weeks 1 day ago

PMI: Pengurangan Risiko Bencana

21 October, 2009 - 03:13 in Communities

PMI dalam Mengurangi Risiko Dampak Bencana telah melaksanakan Program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) sejak tahun 2002 di 13 provinsi yaitu di Lampung, Sumatera Barat, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara. Program PERTAMA merupakan program berbasis masyarakat yang mendorong pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk menyiagakan diri dalam mengurangi risiko dan dampak bencana yang terjadi di lingkungannya. Tahapan Program PERTAMA Secara kronologis, Program PERTAMA dimulai dengan seleksi area. Daerah yang dipilih adalah yang dinilai paling rawan bencana dan adanya komitmen dari masyarakat untuk mengembangkan kemampuan dan sumber dayanya. Selanjutnya PMI bersama masyarakat melakukan VCA (Vulnerability and Capacity Assessment) atau Kajian Kerentanan dan Kapasitas dengan menggunakan alat PRA (Participatory Rural Appraisal). Survei dasar (baseline) dan PSK (Pengetahuan, Sikap, dan Ketrampilan), serta pemetaan risiko (PGIS based) menjadi tahap berikutnya untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat di lokasi-lokasi Program PERTAMA akan dilaksanakan.


Pengembangan kapasitas

Untuk meningkatkan kapasitas PMI dan masyarakat dalam menjalankan Progam PERTAMA, PMI merekrut dan melatih Korps Sukarela (KSR) serta Tim Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang ada di masyarakat. Korps Sukarela dan Tim Sibat bersama masyarakat melakukan pemetaan ancaman, kerentanan, risiko, dan kapasitas, yang menjadi salah satu bahan pembuatan rencana aksi. Rencana Aksi Pengurangan Risiko dibuat secara bottom up dan melibatkan partisipasi penuh dari masyarakat, kemudian diadvokasi dan disosialisasikan kepada Pemerintah Daerah setempat untuk mendapatkan dukungan teknis dan pendanaannya. Pencapaian Program PERTAMA Penanggulangan Bencana. Masyarakat telah meningkat kemampuannya sebagai first responder dalam tanggap darurat dan melaksanakan mitigasi terhadap bencana. Berbagai upaya pendidikan, pelatihan, dan simulasi telah dilakukan untuk memperkuat ketrampilan membuat peta rawan bencana, menentukan jalur evakuasi dan sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Pengembangan Kapasitas. Pendidikan dan pelatihan berjenjang diberikan kepada staf dan relawan PMI, sehingga mereka mampu melakukan upaya penyadaran dan mobilisasi masyarakat, melakukan sosialisasi dan advokasi, sekaligus menjalin kemitraan dengan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan. Kesehatan. Dengan fasilitasi dari KSR dan Sibat, telah dilakukan upaya penyadaran mengenai hidup bersih dan sehat, perbaikan sarana air bersih, pencegahan penyakit yang disebabkan oleh sanitasi buruk, lingkungan yang kotor, air limbah, dan lain-lain. Ekonomi. Walaupun pengentasan kemiskinan bukanlah bidang kegiatan dari PMI, akan tetapi sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kerentanan masyarakat, maka sumber-sumber penghidupan masyarakat perlu dilindungi.



Implementasi

Program PERTAMA di PMI Cabang Jakarta Barat dan Jakarta Timur telah mendorong terbentuknya koperasi serta tabungan di masyarakat sebagai upaya pengurangan risiko di bidang ekonomi. PMI Cabang Lampung Barat mencoba mengatasi ancaman tanah longsor di Desa Suoh dengan menanami lereng dengan bambu dan pohon-pohon perdu. Dan di Kabupaten Polewali Mandar, masyarakat melakukan penanaman pohon bakau di sepanjang pantai untuk mengatasi ancaman abrasi. Sejak munculnya bencana sebagai dampak dari perubahan iklim, pada tahun 2005 Program PERTAMA mendapat dukungan Red Cross/Red Crescent (RD/RC) Climate Center berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam mengembangkan kapasitas dalam mengintegrasikan komponen perubahan iklim melalui kegiatan penyadaran, aksi, advokasi, dan analisis. Pengarustamaan. Konsep, strategi, dan pendekatan Program PERTAMA telah diintegrasikan dalam Rencana Strategis PMI tahun 2004-2009. PMI juga telah melakukan pengembangan manual dan panduan pelatihan PERTAMA, manual dan panduan pelatihan VCA, manual dan panduan pelatihan Pemetaan, serta media KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat. (DM)▲

An interactive crime map

20 October, 2009 - 17:42 in Communities
An interactive crime map that allows members of the public to compare offending rates in neighbourhoods across England and Wales has been launched online.

The Crime Map colour-codes areas based on the level of reported crime and gives detailed information on the rate of burglaries, robberies, violent and vehicle crimes, and other anti-social behaviour.

The service is intended to boost confidence in local policing by giving the public a clearer picture of the level of offending where they live.

It was developed by the National Policing Improvement Agency (NPIA) along with forces across England and Wales on behalf of the Home Office.

Policing and crime minister David Hanson MP said: "Crime maps are a key part of delivering neighbourhood policing and giving communities access to information like this not only improves public confidence but ensures police are responding to local people's needs.

"We know the public want this information, which will allow them to hold the police to account and help create an even more responsive and effective service.

"Neighbourhood police teams already serve every community in England and Wales and the Crime Map is another example of how we are building greater links between the police and the people they serve."

The interactive map allows users to zoom in on any area of England or Wales and find out about crime levels in their village, town, city or region.

Residents can also use the map to compare one police area with another, assessing crime figures over a three-month period against the same period for the previous year.

Steve Mortimore, deputy chief executive of the NPIA, said: "The national Crime Map is a vital step forward in giving the public more information about crime in their areas to increase confidence in the service they receive from the police.

"Fear of crime is known to outstrip the reality. The Crime Map will give people the facts about local crime and what forces are doing about it.

"It is a crucial way of improving the efforts to tackle local crime, since communities that are involved in policing help reduce crime and bring more offenders to justice."

From: http://uk.news.yahoo.com/5/20091020/tuk-online-maps-let-public-compare-crime-45dbed5.html

Buku-buku Google Earth

20 October, 2009 - 10:04 in Communities
Google earth merupakan aplikasi pemetaan interaktif yang dikeluarkan Google, dapat menampilkan peta bola dunia, foto satelit, keadaan topografi, terrain yang dapat dioverlay dengan jalan, bangunan, lokasi, ataupun informasi geografis lainnya. Dengan Google Earth kita dapat merencanakan perjalanan, mencari tempat wisata, bandara, rumah makan, hotel, rumah sakit, sekolah dan memberikan koordinat lintang dan bujur. Google Earth dapat menampilkan foto satelit resolusi rendah yang menggambarkan gunung, laut, hutan, sampai foto satelit resolusi tinggi yang dapat menggambarkan objek-objek seperti jalan, rumah, perkantoran.

Judul Buku: Google Earth
Penulis: Yeyep Yousman
Penyunting: Fl. Sigit Suryantoro
Penerbit: CV.Andi, Yogyakarta
Cetakan:
XII + 148 hlm,; 14X21 cm
ISBN 978-979-29-0371-3


Anda ingin menjelajah dunia? Pasti

Tapi, bagimana dengan keuangan dan waktu yang terbatas? Jangan Khawatir!

Google Inc. telah meluncurkan 2 aplikasi GIS, yakni Google Earth dan Google Maps yang memungkinkan Anda mengunjungi berbagai tempat di dunia tanpa harus beranjak dari depan komputer Anda.

Kedua aplikasi tersebut menawarkan banyak fitur menarik yang mengasyikkan untuk ditelusuri lebih jauh.

Nah buku ini siap memandu Anda mengeksplorasi berbagai tempat di dunia dengan kedua aplikasi tersebut, baik untuk sekedar menghibur diri maupun untuk tujuan lain yang lebih serius. Selamat mencoba!

Judul Buku: Menjelajah Dunia dengan Google Earth & Maps
Penulis: Efisitek.com
Penyunting: Ngadiyo
Penerbit: CV. Yrama Widya
Cetakan: pertama, Desember 2006
184 hlm,; 12,5X19,5 cm
ISBN 979-543-493-4


Saat masih sekolah, kita dikenalkan dengan Globe (bola dunia). Melalui globe tersebut, kita bisa melihat peta bumi dalam ukuran kecil. Namun, kita tidak bisa melihat kondisi sebenarnya di muka bumi. Dengan kemajuan teknologi, terutama komputer, sekarang kita bisa melihat kondisi bumi, seperti jalan raya, pegunungan, bangunan, tempat rekreasi, dan tempat bersejarah.

Semuanya bisa kita nikmati di Google Earth, sebuah software yang memetakan permukaan bumi dari berbagai posisi yang dikumpulkan dari pemetaan satelit dan foto udara dalam bentuk tiga dimensi. Melalui salah satu fiturnya,kita bisa mengelilingi bumi seolah-olah menerbangkan pesawat terbang. Bahkan, dengan software ini juga kita bisa menjelajahi ruang angkasa secara maya.

Buku ini mejelaskan berbagai fitur yang dimiliki Google Earth secara sederhana, sehingga bisa dijadikan panduan bagi Anda yang baru menggunakannya

Judul Buku: Mengoptimalkan Peta Dunia Interaktif di Internet
Penulis: Andy Krisianto
Penyunting: Sudarma S.
Penerbit: mediakita
Cetakan: pertama, 2008
VIII + 128 hlm,; 15X23 cm
ISBN 979-794-140-X▲

Komentar? Klik Disini

Serbuan Gempa & Kewaspadaan

20 October, 2009 - 09:34 in Communities
Sebuah gempa kuat meletup tepat pada Jumat sore, 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB. Data dari USGS National Earthquake Center menyebut magnitudenya Mw 6,1 skala magnitudo dengan kedalaman sumber 50,6 km di bawah pulau Panaitan. Sebuah pulau gunung api yang telah mati dengan kaldera besarnya (yang diameternya lebih kurang 10 km) membuka ke selatan yang terletak di lepas pantai Semenanjung Ujungkulon.

Gempa melepaskan energi sebesar 21 kiloton TNT atau sama dengan energi yang dihasilkan ledakan bom nuklir Hiroshima. Getaran gempa menjalar hingga sejauh 484 km dari episentrum. Atau hingga mencapai kota Cilacap di sebelah timur serta Palembang dan Bengkulu di utara. Namun, getaran yang benar-benar bisa dirasakan manusia (yakni pada intensitas 3 MMI) sebenarnya hanya menjalar hingga 230 km dari episentrum.

Dilihat dari kedalaman sumbernya gempa ini sebenarnya dihasilkan dari patahnya bagian lempeng Australia di kawasan Selat Sunda yang sudah menukik ke dalam mantel Bumi setelah melewati batas pertemuan (zona subduksi) dengan lempeng Sunda yang menjadi dasar berdirinya Kepulauan Indonesia bagian barat. Bagian yang patah itu luasnya sekitar 20 x 10 km persegi. Bukan hanya patah saja bagian tersebut kemudian bergeser naik miring ke atas sejauh 30 cm.

Nah, gempa yang 'cuma' dihasilkan dari patahnya lempeng Australia ini secara teknis disebut gempa dalam lempeng alias gempa intraplate. Kosa kata gempa intraplate melejit belakangan ini tatkala hampir 2 bulan silam kawasan Jawa Barat bagian selatan diguncang oleh gempa kuat dengan Mw 7,0 skala magnitudo. Dan, belum lepas dari ingatan kita betapa Padang dan sekitarnya diharubirukan oleh gempa kuat dengan Mw 7,6 skala magnitudo yang ternyata juga jenis gempa intraplate.

Jauh hari sebelumnya kita pun pernah dikejutkan oleh gempa intraplate yang lain. Tepatnya pada 9 Agustus 2007 dengan Mw 7,5 skala magnitudo yang bersumber pada kedalaman 290 km di Laut Jawa lepas pantai Indramayu.

Mengapa belakangan ini sering muncul gempa intraplate di Indonesia? Jawabannya belum diketahui. Jangankan sumber gempa yang cukup dalam dan tersembunyi. Sumber gempa yang nampak di permukaan bumi pun seperti zona-zona subduksi dan patahan-patahan aktif di sekujur Kepulauan Indonesia pun belum banyak diketahui meskipun 60% pusat pemukiman penduduk di negeri ini berdiri di atas daerah patahan.

Bumi ini dan lebih khusus lagi Kepulauan Indonesia memiliki dinamikanya yang tersendiri. Dan, salah satu produknya adalah gempa yang jadwal waktunya tidak berkelit berkelindan dengan jadwal waktu ala manusia. Tunggu tunggu tunggu dan tiba-tiba drrrrr.

Ilmu pergempaan sudah seabad lebih bergumul dengan teori dislokasi elastik untuk mengkaji sifat-sifat sumber gempa dan sekaligus memprediksi kapan penumpukan tekanan dalam suatu sumber gempa akan melampaui batas daya tahan batuan di tempat tersebut. Namun, sebagian seismolog belakangan mengakui bahwa waktu terjadinya gempa di satu sumber lebih sering bersifat acak (random) dan cenderung berkelompok (cluster) pada selang waktu tertentu ketimbang mengikuti jadwal waktu ala teori dislokasi elastik.

Makanya meramal waktu kejadian gempa adalah nonsense dalam pengetahuan masa kini. Bila kita sering dihebohkan dengan isu akan munculnya gempa besar dalam magnitude tertentu dalam waktu tertentu, seperti yang telah menciutkan ribuan orang di Banten, Lampung, Surabaya, dan Bantul beberapa waktu lalu, sekali lagi itu adalah nonsense.

Ketidakmungkinan manusia memprediksikan waktu kejadian sebuah gempa dengan hasil yang akurat sebagaimana kita memprediksikan cuaca membuat kesiapsiagaan terhadap gempa merupakan hal esensial yang harus dilakukan secara terus-menerus. Bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam.

Gempa Ujungkulon lalu, secara teoritis, hanya menghasilkan guncangan maksimum sebesar 6 MMI saja, yang getarannya baru dalam taraf sanggup meretakkan bangunan. Namun, belum merubuhkannya. Dan guncangan 6 MMI ini sejatinya hanya terasakan di kawasan Taman Nasional Ujungkulon. Namun, gempa yang 'ringan' ini, semoga menjadi pembuka mata hati kita bahwa kewaspadaan terhadap gempa adalah keniscayaan. Bahwa bumi terus bergerak di dalam sana dengan segala tingkah laku yang belum sepenuhnya kita pahami. Namun, getarannya sudah terlalu sering kita rasakan▲

Ma'rufin Sudibyo
Jl Nanas C-4 Jadimulya Cirebon
marufins@yahoo.com
0817727823

Tulisan ini dimuat di www.detik.com

Komentar? Klik Disini

Participatory Mapping

17 October, 2009 - 11:39 in Communities
Capturing and managing local knowledge and stimulating public participation are essential for post-damage infrastructure management and relief. Government agencies often lack effective means of accessing knowledge held by residents. The author carried out a case-study in Indonesia showing that maps, GIS and web mapping could provide such means.

By Trias Aditya, Gadjah Mada University, Indonesia

Frequent rainfall inundation causes serious damage to urban areas in Indonesia and impacts many small and medium-scale sectors of the economy. Such inundation also hampers develop­ment and decreases quality of life within a neighbourhood. In addressing these problems community participation during infrastructure planning and relief is considered a ‘must’ and has thus been on the agenda for several years. Today every urban community within a sub-district region (‘kelurahan’) may signal problems and suggest solutions to authorities. However, residents often feel government does not consider their suggestions worthy of serious consideration, or that they are not implemented as part of renovation programmes. The use of maps, GIS systems and web technology could help to bridge the communication gap. Community mapping, mainly facilitated by non-governmental organisations, has already been widely and successfully applied in many rural areas within Indonesia, for example for land conflict mediation.

Input
To prove our ideas we carried out a case-study in which we used GoogleMaps to build a web map application for Pandeyan Neighbourhood,Yogyakarta City. Residents may draw over maps, superimposing their own point, line and polygon features and annotate these to identify problems, analyses and suggestions. An image of the spot can also be uploaded. Input is by theme, such as rainfall inundation, disturbed drainage and damaged roads, and organised in layers that can be turned on and off. The input for each layer is stored in the database using MySQL. Community input can be viewed as a click list, via which the area of interest can be quickly shown. To ensure accountability, only residents providing an ID number get access. One interesting feature is that comments can be added to the input so that fellow residents can verify, enhance or reject the input: an initial moni­toring and verification tool.

Implementation
The application has been developed as an AJAX (Asynchronous Javascript and XML) application. The server application was built using PHP programming and enhanced with the MySQL databases application. The server application was used to enable web application, MySQL databases, and PHP session data running in response to clients’ requests. The client side (browser) is equipped with CSS (Cascading Style Sheet), HTML and Java­script to enable users to send a request (running state) and access response (loading state) through the browser. The database consists of relational tables, including geometry of points, polylines and polygons drawn by residents on top of the map, and associated annotations. Tables relating to session, traffic, counter and users are also stored.

Onsite Verification
To support verification a government administrator has to convert the input into GIS layers, shapefiles and tables, using an OGR2OGR tool component. The PHP script enables geometry and attributes stored in MySQL to be converted into KML (Keyhole Markup Language), and then into ESRI shapefiles using OGR2OGR. Transfer of layers to mobile devices enables onsite verification by government staff and on-the-spot discussions with residents. Our case-study reveals that the majority of residents (ten out of fifteen) can actively participate in onsite verification. Some elderly residents found the screen too small. Interestingly, half of participants preferred paper maps (satellite imagery), so it was made possible for residents to collectively develop an ‘inundation paper map’. Participatory mapping, either web- or paper-based, improves the skills of residents in survey and spatial-problem identification.

Final Remarks
The effectiveness and efficiency of input collection, verification and GIS database creation was well appreciated by municipality and government staff alike. The research is far from complete, and one urgent topic is the development of database management to enable visual analysis of resident input.

Further Reading
-Mason, B. C., and Dragic´evic´, S., 2006; Web GIS and Know­ledge Management Systems: An Integrated Design for Collaborative Commnunity Planning. Collaborative Geographic Information Systems, R. Balram and S.Dragic´evic´, eds., Idea Group Publishing Ltd, 263-283.



-Steinmann, R., Krek, A., Blasch­ke, T., 2004, Can Online Map-based Applications Improve Citizen Participation? Proceedings of TED conference on e-Government, Bozen, Italy.


Trias Aditya, Department of Geodetic-Geomatics Engineering, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University, Jl. Grafika No. 2, Yogyakarta 55281, Indonesia, e-mail: triasaditya@ugm.ac.id

Biography of the Author(s)
Dr Trias Aditya is lecturer and researcher at the Department of Geodesy and Geomatics Engineering, Gadjah Mada University.

References
http://code.google.com/apis/maps/documentation/
http://www.gdal.org/ogr/ogr2ogr.html

Pendayagunaan Pemetaan Partisipatif

16 October, 2009 - 11:32 in Communities
Ringkasan laporan riset integrasi SIG partisipatif & SIG kolaboratif:

Dalam pembangunan infrastruktur perkotaan, konsep pendekatan bottom-up sudah dilaksananakan melalui proyek-proyek pemerintah. Dalam kaitan ini, teknik pemetaan partisipatif atau sistem informasi geografis (SIG) partisipatif merupakan salah satu strategi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses penyerapan aspirasi dan kebutuhan komunitas masyarakat akan pembangunan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi dan tantangan penerapan teknologi SIG untuk mendukung proses bottom-up maupun proses top-down dari pengambil keputusan dalam merencana dan menentukan skala prioritas pembangunan infrastruktur. Dari analisis ini, diharapkan mampu terpetakan kapasitas dan kompetensi warga masyarakat dan pengambil keputusan apabila sebuah model penerapan SIG untuk mendukung proses bottom-up dan top-down diaplikasikan di lapangan.

Untuk itu, aktivitas pemetaan partisipatif, wawancara, survei kuisioner, uji kegunaan skenario dan aplikasi telah dilaksanakan dalam penelitian ini. Pemetaan partisipatif dilakukan dengan studi kasus masalah genangan air hujan di Keluarahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo. Sedangkan wawancara dan survei dilaksanakan dengan target responden meliputi masyarakat umum dan pengambil keputusan dan analis di instansi Bakosurtanal, Kimpraswil Propinsi dan Kota. Sebuah skenario pengintegrasian SIG partisipatif dan SIG kolaboratif diusulkan dalam peneilitian ini melalui pembangunan dan evaluasi portal pemetaan partisipatif infrastruktur kota berbasis internet, verifikasi asprasi dan kebutuhan masyarakat melalui pemetaan partisipatif dengan piranti bergerak di lapangan bersama masyarakat.

Dari hasil survei dapat disimpulkan bahwa lebih dari 80% responden pengambil keputusan dan staff teknis menilai SIG perlu untuk dioperasikan, namun pada kenyataannya, operasionalisasi SIG masih rendah (30%). Ditambah lagi, analisis multi-criteria dan pemanfaatan SIG untuk kerja kelompok masih rendah. Dari perspektif responden masyarakat umum, pelibatan masyarakat dalam penyelesaian masalah prasarana fisik adalah strategi yang populis (80%) dan menganggap akses informasi (termasuk peta) publik terkait infrastruktur masih kurang terfasilitasi (50%). Terkait kemampuan kognitif spasial masyarakat, dapat disimpulkan bahwa kemampuan melakukan orientasi spasial para responden masih sangat rendah (yang menjawab benar 60%). Bagi pengambil keputusan dan staff, penggunaan peta dalam rapat dan diskusi sudah tergolong tinggi.

Dari hasil wawancara dan uji kegunaan aplikasi, skenario integrasi SIG partisipatif dan SIG kolaboratif mendapat respon positif. Efisiensi dan transparansi merupakan aspek yang menjanjikan dalam sistem ini. Pemanfaatan TI dalam proses pemberdayaan masyarakat dalam mengenali masalah, menganalisis, dan mengusulkan perbaikan, mendapat dukungan positif baik dari warga masyarakat maupun dari para pengambil keputusan. Namun, akuntabilitas dan manajemen aspirasi merupakan hal yang bagi pengambil keputusan perlu mendapatkan pengkajian khusus lagi. Selain itu, aspek kemudahan pengguna beraktivitas (terkait bidang Interaksi Manusia-Komputer atau Human-Computer Interaction) juga perlu mendapat penyempurnaan.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kapasitas pengambil keputusan dan analis untuk mengoptimalkan informasi yang sudah tersedia (termasuk peta) dalam proses perencanaan dan penyelesaian masalah melalui pemberdayaan masyarakat masih belum optimal. Kompetensi para pengambil keputusan sudah mencukupi, namun masih terlihat perlu mendapatkan penyegaran dan transfer pengetahuan dan ilmu yang berkaitan dengan pemetaan dan aplikasi SIG yang mutakhir dan tepat guna untuk memfasilitasi analisis multi-criteria. Komunitas masyakat sendiri terlihat begitu antusias dan berperan aktif dalam kegiatan pemetaan partisipatif, meskipun teknik dan teknologi yang dikenalkan kepada mereka tergolong baru bagi mereka. Oleh karena itu, faktor utama yang masih menjadi penghambat dalam penerapan SIG partisipatif & kolaboratif adalah kekurangpahaman pengambil keputusan dan analis akan potensi peta dan SIG untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan penyelesaian masalah infrastruktur▲

Riset ini sudah dimuat di artikel “Feature” GIM International, versi web-nya di sini

Prototpe portal web participatory mapping dapat diakses di:
http://triasaditya.staff.ugm.ac.id/partisipatif/

Sumber tulisan: http://trias.wordpress.com/2008/09/07/pendayagunaan-pemetaan-partisipatif/#more-65

Komentar? Klik Disini

Solferino: Palang/Bulan Sabit Merah

15 October, 2009 - 14:08 in Communities
Bila tidak terjadi pertempuran di Solferino, akankah organisasi Palang/Bulan Sabit Merah tidak ada di bumi kita? Wah belum tentulah, pasti kapanpun, perang dimanapun akan melahirkan organisasi penolong Sukarela. Kebetulan saja ada perang Solferino, dan ada orang berhati mulya dan terpandang (dialah Tuan Jean Henry Dunant), dan ada pembantaian terhadap manusia (juga terhadap personil medis), serta ada komitmen bersama dari berbagai negara untuk mengurangi dampak peperangan.

Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang terdiri dari tiga (3) Komponen:
1. Komite Internasional Palang Merah/International Committe of the Red Cross (ICRC)
2. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah/International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC)
3. Perhimpunan Nasional: Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Kristal Merah

Dimanakah Desa Kecil yang bersejarah itu? Berdasarkan Wikipedia kota itu terletak di 45° 22′ 2″ N, 10° 33′ 59″ E atau 45.367222, 10.566389 untuk format WGS 84, dan untuk UTM 32T 622664 5024939. Silahkan Copy dan Paste Koordinat ini untuk dilihat di Google Earth atau masukkan dalam GPS anda, siapa tahu anda punya kesempatan bersafari ke Italia dan mampir ke desa kecil di Italia Utara (saya harap saya punya kesempatan berkunjung ke tempat ini)

Untuk Lokasi Monumen Palang Merah di Solferino terletak di 45°21'58.09"N 10°33'58.58"E (Sumber: Panoramio).

Silahkan meselancari koordinat-koordinat itu.
Komentar? Silahkan klik Disini

Asesmen, GPS & Kopasus di Diklat Satgana

14 October, 2009 - 09:38 in Communities
PMI Daerah Banten mengadakan pelatihan Manajemen Tanggap Darurat sejak tanggal 6 s/d 13 Oktober. Pelatihan dilakukan di Taman Kopassus, Grup 1 Kopassus Serang.

Menurut Pak Agus S, ketua Panitia, pemilihan pelatihan di tanah Kopasus adalah untuk meningkatkan kedisiplinan, kebanggan terhadap Korps (PMI), dan jiwa korsa sebagai sukarelawan PMI. Terlebih Kopasus terkenal atas kedisiplinan, ketangguhan dan memikirkan keamanan dalam bertindak, jadi bukan berani tanpa pertimbangan.

Baru saja masuk barak, peserta sudah dihadapkan pada kedisiplinan dan kebersamaan. Pembotakan rambut 2 cm, larangan merokok selama diklat, aturan mandi, sopan santun dalam kelas dan juga diluar kelas, dll.

Namun jangan dikira mereka masuk ladang pembantaian, karena Kopassus profesional, mereka menerapkan kedisiplinan dan pembinaan sesuai dengan latar belakang peserta, kan Sukarelawan PMI dari Kaum Sipil, dan juga bukan keinginan PMI memberikan latihan yang keras tanpa nurani kepada Sukarelawannya.

Pelatihan Asesmen
Pelatihan asesmen kali ini sudah mulai memasukkan tools atau alat GPS sebagai salah satu alat dalam asesmen, sesuai standar kurikulum yang terbaru. Diharapkan kurikulum ini akan segera diikuti oleh seluruh jenjang PMI.

GPS digunakan sebagi alat asesmen untuk memudahkan tim pelayanan dalam menjalankan fungsinya. Karena dengan GPS titik-titik pelayanan dapat ditandai, misalnya lokasi pengungsian/atau lokasi yang disiapkan sebagai tempat pengungsian, pos kesehatan, sumber air, area kerusakan, pemukiman, dll. Karena informasi yang lengkap maka GPS sangat membantu dalam pelayanan PMI.

Dengan adanya titik-titik ini maka pertukaran informasi antar jenjang PMI dapat berjalan, terutama terkait dengan data spasial (termasuk juga ketinggian). Data ketinggian memberikan informasi keamanan untuk titik-titik pelayanan sehingga aman bagi sukarelawan PMI dan juga masyarakat.

Dengan Sistem Informasi Geografis, data dapat diolah untuk dijadikan sumber pengambilan keputusan dan dapat dibagikan kepada yang lain dengan mudah. Juga dapat memudahkan PMI Pusat mengetahui lokasi-lokasi pelayanan yang nantinya berguna untuk sumber informasi kepada khalayak dan juga berbagai divisi di MP PMI, terutama dapat digunakan oleh Divisi Pengembangan Sumber Daya untuk pengglangan dana melalui presentasi.

Dengan pengiriman data dalam format sederhana GPS atau Google Earth saja, maka PMI dapat mengontrol pelayanannya dan juga pihak lain dapat mengetahuinya.

Sehingga kedepan, PMI tidak harus tergantung pada organisasi lain dan justru menjadi sumber informasi.

Namun sayang skenario itu masih belum terwujud, karena berbagai hal (kecuali data dalam format GPS dan Google Earth).

Komentar? Bebagi informasi? silahkan Klik Disini

Pelatihan P-Risk Mapping H5

2 October, 2009 - 15:43 in Communities
Hari terkahir pelatihan pemetaan risiko. Materi terakhir dilapangan adalah ”Mencari Lokasi Bencana”. Skenarionya adalah, sukarelawan PMI (Disaster Risk Mappers) mendapat tugas untuk segera ke daerah yang terkena bencana atau lokasi korban. Sukarelawan diberi koordinat lokasi dan harus mencari lokasi tersebut serta tidak lupa untuk mengambil fotonya sebagai bukti bahwa mereka telah sampai dilokasi yang disimulasikan.

Walaupun lokasi simulasi hanya disekitaran kompleks Pusdiklat PMI, mereka tetap semangat dan menemukan hal baru/pengetahuan baru di lokasi itu. Misalnya kondisi di belakang Pusdiklat yang berjurang dan di aliri sungai berbatu cadas.

Selama satu jam mereka berpanas-panasan.

Selamat Datang Mappers Baru
Kawan-kawan, selamat datang di komunitas Disaster Risk Mapping. Semoga kita bisa berguna bagi sesama.
Tetap berhubungan dan belajarlah terus kepada siapa saja

Komentar atau mau tambah tulisan mengenai ini? Silahkan klik disini

Batik & Indikasi Geografis Indonesia

2 October, 2009 - 15:12 in Communities
Tanggal 2 Oktober 2009 ini, masyarakat Indonesia dengan kebanggaan menyambut himbauan penggunaan batik dengan mengenakan segala sesuatu yang berbau batik. Bukan hanya baju, namun juga umbul-umbul pintu masuk kantor di daerah Jl. Thamrin bahkan ada sepeda yang dibatik oleh kelompok Bike to Work (B2W).

Setelah batik diakui sebagai warisan dunia yang dimiliki oleh Indonesia, juga klaim Malaysia bahwa batik adalah karya aslinya. Maka wajar saja bila rakyat Indonesia terpanggil untuk mempertahankannya.

Dari Rumah sampai Kantor, dari Kantor sampai Kantor BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Sejak berangkat dari rumah pagi ini, parade penggunaan batik sudah terlihat. Banyak tetangga yang juga menggunakan batik sebagai baju kerjanya hari ini.

Sengaja hari ini saya menggunakan angkutan umum hanya untuk melihat bagaimana batik dihargai oleh anak Indonesia.

Begitu naik angkot, kami langsung saling lihat, senyum ditahan, kenapa? Karena ternyata satu angkot itu penuh dengan orang yang berbatik, baik laki-laki maupun perempuan. Bisa jadi mereka baru saja bercanda, “bila ada yang naik lagi orang berbatik maka akan mendapat hadiah gelas” hahahaha.

Kejadian penuhnya penumpang dengan batik ternyata juga dijumpai pada kendaraan umum lainnya, bahkan detik.com dalam laporannya menulis “Penumpang Bus TransJ dan Angkot Pakai Batik”.

Juga parade batik terlihat sepanjang jalan Sudirman, Thamrin dan bilangan Pasar Baru. Bahkan di Masjid Istiqlal, saat kami Shalat banyak jamaah yang berbatik.

Walaupun kejadian ini masih setaraf seremonial, namun ini membuktikan bahwa orang Indonesia masih Bangga Menjadi Orang Indonesia.

Apalagi terlihat bukan hanya batik Jawa yang ”beredar” hari ini, misalnya saya mengenakan Batik Bali. Terlihat (ini kata teman saya), ada yang mengenakan Batik Sunda (Garut). Juga saya lihat ada Batik Bengkulu (dengan motif Raflesia Arnoldi), Papua (motif Cendrawasih), Kalimantan, dll. Bahkan di kantor PMI terlihat batik dengan motif berlambang PMI (Palang Merah dengan dilingkari bunga melati), motif PMI ini diproduksi atas kerjasama Batik Keris dengan PMI Cab. Surakarta. Ini juga membuktikan Batik memang milik Indonesia.

Nah apakah ini akan berhenti hari ini saja, atau setiap hari Jum’at kita akan menggunakan batik?

Komentar? klik disini


All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.