Planet
GPS dalam Projector
- Garmin-Asus nüvifone M20 dengan Fungsi GPS Saya mencoba membuat postingan tentang gadget yang memiliki fitur GPS di dalamnya. Mudah-mudahan postingan...
Berapa Negeri yang telah kau kunjungi

eBook GIS for Web Developers
- eBook Desktop GIS: Mapping the Planet with Open Source Tools eBook Desktop GIS: Mapping the Planet with Open Source Tools karya Gary Sherman mencoba untuk...
- GIS Tutorial MapInfo : Pemrograman Dengan Mapbasic Buku digital seri pemrograman Sistem Informasi Geografis dengan MapInfo MapBasic yang tersedia di milis...
- Ebook GIS is a Green Technology ESRI baru saja merilis sebuah e-book di dalam serial GIS Best Practices, berjudul GIS is...
- Download Gratis eBook “Bekerja dengan GPS” GeoVisi kembali menelurkan dua ebook sekaligus. Keduanya berhubungan dengan cara dan pemanfaatan GPS. Di...
- Tutorial WebGIS dalam Bahasa Indonesia Saya menyediakan link download untuk tutorial WebGIS dalam Bahasa Indonesia. Tutorial tersebut dibuat oleh...
Seni-Budaya, Bencana dan Sejarah Indonesia

‘Budaya Bencana’: Sangat Penting!

Membuat Chart Dinamis di ArcMap
- ArcMAP : Burning *.mxd beserta datanya pada CD atau DVD Pada topik yang lalu saya pernah menulis tentang project ArcView 3.x yaitu *.apr yang bisa...
- ArcMap projects to Web MapViewSVG 7, sebuah extension untuk ArcGIS Desktop versi 8 atau yang lebih baru (dan juga...
- Rotate Tools in ArcMap Kelebihan ArcGIS – ArcMap dibanding ArcView 3.x adalah tersedianya tools rotasi. Bukan hanya graphic yang...
- Formatting Text in ArcMap Saat me-layout di ArcMap, sering kita menambahkan sebuah teks untuk melengkapi informasi pada peta. Teks...
- Cara Membuat Vektor Grid di ArcGIS Kemarin saya baru saja menunjukkan cara membuat vektor grid di ArcView 3.x. Kini saya...
3 Days For 1000 Years
Batas wilayah yang masih mendikte kita
Ketika Tembok Berlin runtuh tahun 1989, dunia diingatkan akan makna baru sebuah sekat atau batas. Kejadian ini seakan mengisyaratkan bahwa sekat tidak lagi diperlukan. Untuk pertama kalinya, istilah “borderless world”, dunia tanpa sekat, diperkenalkan (Ohmae, 1990). Fenomena ini diperkuat oleh gagasan globalisasi, perdagangan bebas dan sejenisnya. Dunia memang seperti tanpa sekat, pertukaran barang dan jasa terjadi begitu mudahnya. Benarkah batas wilayah menjadi tidak penting lagi?
Di sisi lain, ada fenomena yang bertolak belakang. Indonesia dan Malaysia, misalnya masih sering bermasalah dengan batas wilayah. Terjadinya ketegangan akibat kasus Ambalat, misalnya, adalah salah satu dampak sengketa batas wilayah. Belum disepakatinya batas maritim di Laut Sulawesi adalah salah satu penyebab ketegangan tersebut. Senada dengan itu, Thailand dan Kamboja juga mengalami ketegangan yang serius akibat sengketa di daerah perbatasan yang melibatkan candi kuno. Sengketa antara Thailand dan Kamboja juga sempat mengarah pada kontak fisik yang membahayakan jiwa.
Di Eropa, niat Kroasia untuk menjadi anggota Uni Eropa terganjal oleh Slovenia juga karena batas wilayah. Slovenia tidak menyetujui Kroasia untuk menjadi anggota Uni Eropa karena Kroasia belum menuntaskan batas wilayah dengan Sovenia, baik batas darat maupun batas maritimnya.
Batas wilayah ternyata masih kerap menimbulkan persoalan. Dalam konteks ini, istilah “borderless world” tidaklah sepenuhnya benar. Duapuluh tahun setelah Tembok Berlin runtuh, batas wilayah ternyata masih menjadi isu yang penting. Batas wilayah bahkan masih mendikte kita dan menjadi sumber ketegangan hubungan antarmanusia.
Di lingkup yang lebih sempit, konflik batas wilayah juga masih selalu terjadi. Sengketa kepemilikan Gunung Kelud antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar di Jawa Timur sempat menghiasi halaman media massa di penghujung tahun 2008. Hal serupa terjadi di pertengahan Agustus 2009 antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Sleman di Yogyakarta. Keduanya bersikukuh sebagai pemilik sah dari Dusun Tambakbayan dan Tambakkraman yang berada di perbatasan kedua kabupaten. Hingga tulisan ini dibuat, sengketa kedua kabupaten belum juga tuntas.
Di saat isu antarbangsa seperti persoalan Ambalat dengan Malaysia yang sempat memanas, ada yang berpendapat bahwa persoalan rebutan wilayah antarkabupaten tidaklah pada tempatnya. Ditambahkan bahwa kita, Bangsa Indonesia, semestinya memusatkan perhatian pada kasus antarnegara dan bersiap lebih matang menghadapi Malaysia, tidak terjebak oleh sengketa dalam negeri.
Pandangan di atas ada benarnya namun tidak berarti urusan batas daerah bisa dilupakan. Dalam cakupan geografis yang tentu berbeda, batas wilayah daerah justru memiliki makna yang sangat penting. Dalam era otonomi, Dana Alokasi Umum (DAU) misalnya, diberikan kepada daerah dengan mempertimbangkan luas daerah. Bagaimana luas daerah bisa ditentukan dengan akurat jika batas wilayah tidak jelas? Dengan adanya kewenangan pengelolaan lebih luas pada kabupaten, kejelasan wilayah yang bisa dikelola menjadi sangat penting. Inilah barangkali yang melatarbelakangi Kabupaten Sleman dan Bantul mempersoalkan dengan serius sengketa batas wilayah.
Perihal batas daerah diatur dalam Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Petuntuk teknis terkait batas daerah kemudian dituangkan dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri (Permendagri) No. 1/ 2006. Dalam Permendagri ini dijelaskan tentang tatacara penetapan (di atas peta) dan penegasan (di lapangan) batas wilayah baik di darat maupun di laut. Secara teknis, aspek yang sangat penting dalam penegasan batas daerah adalah prinsip geodesi atau survei pemetaan. Hal yang harus diperhatikan dalam penentuan dan penegasan batas adalah jenis batas yang akan digunakan (alami maupun buatan), teknologi yang dipilih terkait kualitas hasil yang diharapkan, serta partisipasi masyarakat yang secara langsung akan tekena dampak akibat adanya penegasan batas tersebut.
Meskipun hal teknis sangatlah penting, aspek non teknis tentu tidak bisa diabaikan karena batas wilayah sesungguhnya bersifat multidimensi. Pada wilayah dengan sengketa kepemilikan, penetapan koordinat tugu batas dengan segala ketelitian teknisnya tentu tidak bisa dilakukan sebelum sengketa terselesaikan. Aspek hukum dan sejarah jelas tidak bisa diabaikan, demikian pula aspek sosial, politik dan ekonomi. Bagaimanapun juga, penegasan batas wilayah semestinya memberi rasa aman yang berujung pada peningkatan kesejahteraan. Oleh karena itulah urusan batas wilayah bukanlah kewenangan satu disiplin ilmu belaka.
Dua puluh tahun sejak Tembok Berlin runtuh dan orang mulai mengenal ”borderless world”, dunia ternyata masih gelisah karena batas wilayah. Meski interaksi memang jauh lebih mudah dewasa ini, batas teritori tetaplah penting. Batas wilayah penting artinya bukan dalam rangka mengurung diri tetapi untuk menghormati hak dan menghargai kewajiban kewilayahan. Selain pemerintah dan praktisi, akademisi juga harus peduli dengan persoalan ini dengan menggiatkan kajian ilmiah yang bersifat lintas disiplin; sebuah kajian tentang batas yang tidak tersekat-sekat oleh batas disiplin ilmu.

Using GPS for Mudik: Lets Safety First Think!

Berhati-hatilah mengutak-atik (mencari PoI, memasukkan koordinat, dll) GPS anda disaat anda mengemudi.
Salah satunya, usaha anda tersebut akan memecahkan konsentrasi anda disaat mengemudi walaupun hal itu anda lakukan sebentar saja. Apalagi bila anda menggunakan sepeda motor.
Menurut Presiden AAA Foundation bidang keselamatan lalu lintas (USA), yang dikutip National geographic Traveler (Edisi Indonesia, September 2009): “risiko terjadi kecelakaan semakin besar karena pengemudi kehilangan konsentrasi”. Berdasarkan penelitian, pengemudi yang kehilangan konsentrasi mengalami kecelakaan fatal (78%) dan kecelakaan ringan (60%).
Bahkan menurut Charlie Klauer (peneliti di Center for Automotive Safety Research di Virginia Tech – Blacksburg, VA) “Bila konsentrasi pengemudi terganggu, meski hanya 2 – 6 detik saja, tetap melipatgandakan risiko terjadinya kecelakaan.”
Berikut ini beberapa tips keselamatan dalam penggunaan GPS di kendaraan anda:
1. Menepilah, kemudian berhenti untuk menseting GPS anda (mencari PoI, memasukkan koordinat, dll).
2. Bila memungkinkan, minta tolong pada teman disamping anda untuk mencari PoI, memasukkan koordinat. Sebaiknya anda sudah mengorientasikan bagaimana menggunakan GPS sebelum jalan.
3. Fahami bahwa data yang ditampilkan dipeta terkadang tidak akurat, posisi PoI yang tidak tepat atau belokkan jalan dll. Informasi tidak 100% tepat.
4. Hati2 penggunaan perintah suara, karena terkadang mengagetkan.
5. Gunakan Bracket yang dikeluarkan oleh pabrik GPS yang sesuai dengan milik anda.
6. Letakkan GPS dengan bracket diposisi yang tidak mengganggu pemandangan anda.
7. Jangan letakan GPS tanpa brecket di dashboard, karena bila mengerem mendadak atau terjadi sesuatu tidak terpental dan mengenai anda atau orang yang anda cintai.
8. Peta cetakan ternyata masih tetap dibutuhkan.
Untuk pabrikan GPS, diharapkan dapat menerapkan sebuah sistem, dimana GPS tidak bisa diprogram untuk petunjuk baru bila kendaraan sedang melaju atau mesin dinyalakan.
Memang untuk GPS Garmin Nuvi series, bila kendaraan dalam kecepatan akan menampilkan peringatan bila anda mengubah/memprogram ulang, namun bila anda memilih melanjutkan maka anda tetap bisa memprogram ulang.
Jadi, mudiklah dengan aman dan nyaman. Merayakan hari Raya Idul Fitri dengan keluarga kan tujuan utama kita.
Gunakan GPS dengan aman. Karena GPS saat ini banyak yang memanfaatkan.
”Soal melengkapi mobil dengan GPS ini merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan, bila ingin menjelajah secara mandiri dengan cara bermobil.” demikian ungkapan Maria Sukrisman/Manggalani R. Ukirsari dalam tulisannya Jelajah Launceston sampai Hobart – National Geographic Traveler Indonesia September 2009, halaman 35.
Selamat mudik dan semoga selamat.
Berita-berita seputar gempa Jawa Barat bagian selatan

About
Planet Geo Indonesia is a GIS/geo- related blog aggregator, written by Indonesian bloggers and mostly in Indonesian Language... read on »
Contributors
Except otherwise noted BK and Geografiana.com has no affiliation whatsoever with the authors. All materials, links, copyrights, opinions expressed in each blog solely belongs to the original authors.
Got something to say?
Link to this site
Feel free to use this image to promote this planet on your website/weblog, you can simply copy-and-paste the code below:

All opinions belong to their respective owners, others, copyright © 2006-2007 Buana Katulistiwa.




